Warta Kaili – Charli XCX selama ini dikenal sebagai ikon pop Inggris yang liar, penuh energi pesta, dan berani menabrak batas estetika. Rambut gelap yang membingkai wajahnya, riasan tebal yang nyaris selalu “berisik”, serta persona brat yang ia bangun lewat musik elektro-pop menjadikannya simbol generasi yang keras kepala sekaligus jujur.
Namun kini, di tengah sembilan proyek film yang sedang atau akan ia jalani, muncul pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah Charli XCX benar-benar bisa berakting, ataukah layar lebar hanya panggung lain yang memantulkan karisma bintangnya?
Pertanyaan itu mengemuka seiring pemutaran perdana film The Moment di Festival Film Sundance. Dalam salah satu adegan paling membekas, Charli duduk di kursi belakang taksi, menghapus riasan wajahnya dengan tisu pembersih.
Lipstik yang luntur, stiker permata palsu yang ia kelupas dari bawah mata, dan sorot wajah yang memantulkan penyesalan serta kelelahan, menghadirkan sisi rapuh yang jarang terlihat.
Adegan ini singkat, nyaris tanpa dialog, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Bukan Charli yang berteriak di atas panggung, melainkan Charli yang diam dan menahan diri.
The Moment, garapan Aidan Zamiri, adalah satire cerdas tentang ketenaran pop abad ke-21. Film ini membayangkan sebuah skenario alternatif: bagaimana jika Charli kehilangan kendali setelah kesuksesan album Brat pada 2024? Secara kemasan, ia disebut sebagai mockumentary, namun ambisinya jelas melampaui sekadar lelucon. Film ini ingin dibaca serius, dan Charli, untuk pertama kalinya, berdiri sebagai pemeran utama.
Kehadirannya di Sundance tidak hanya untuk satu film. Bersamaan dengan The Moment, Charli juga mempromosikan I Want Your Sex, komedi gelap karya Gregg Araki, serta The Gallerist yang dibintangi Natalie Portman.
Respons kritikus beragam: I Want Your Sex disambut cukup hangat, sementara The Gallerist justru menuai kekecewaan. Namun satu hal pasti, Charli tiba-tiba ada di mana-mana.
Dilansir dari the Guardian, dan dirangkum serta ditulis kembali dengan gaya warta Kaili, fenomena ini memunculkan rasa heran sekaligus penasaran. Mengapa seorang musisi pop tiba-tiba begitu intens memasuki dunia film, ketika banyak pendahulunya justru tersandung? Harry Styles, misalnya, sempat menunjukkan potensi lewat peran kecil di Dunkirk, tetapi tampak tergesa-gesa saat langsung memikul peran utama dalam Don’t Worry Darling dan My Policeman. Hasilnya, performa yang dinilai datar dan karier akting yang kemudian meredup.
Charli memilih jalur berbeda. Alih-alih langsung memburu peran besar, ia tampak nyaman berada di posisi pendukung. Di The Gallerist, ia hanya muncul sebagai pacar seorang influencer seni.
Dalam Sacrifice karya Romain Gavras, ia hadir sebagai Mother Nature dalam peran singkat. Bahkan di I Want Your Sex, meski namanya mencuri perhatian, ia bukan pemeran utama. Pendekatan ini terkesan sederhana, tetapi justru menunjukkan kesadaran diri yang jarang dimiliki bintang pop yang “menyeberang” ke film.
Contoh paling kontras terlihat dalam 100 Nights of Hero, dongeng feminis berlatar dunia fantasi abad pertengahan. Di sini, Charli tampil nyaris tanpa jejak persona pop-nya. Sebagai Rosa, ia lembut, polos, dan tenang. Gerak-geriknya sederhana: menyisir rambut sang saudari, menyandarkan kepala di dada ayahnya.
Tanpa riasan vampir dan tanpa sikap memberontak, Charli menghadirkan kemurnian yang mengejutkan. Jarak antara Rosa dan Charli XCX di panggung konser terasa sejauh dua dunia berbeda, namun ia menjembataninya dengan mulus.
Justru The Moment yang paling berani menguliti citra publiknya. Film ini menertawakan rambutnya, kerja sama mereknya, bahkan lagu-lagu lamanya. Charli bukan hanya bintang, tetapi juga sasaran olok-olok.
Ada adegan kocak tentang kartu kredit bermerek yang jelas-jelas satire, namun ada pula momen sunyi yang menggigit. Ketika seorang penggemar mengatakan bahwa musik Charli menyelamatkannya dari bunuh diri, kamera menangkap ekspresi Charli yang terkejut dan tertekan. Ia tidak menjadikannya bahan komedi murah. Reaksi itu dimainkan dengan jujur, nyaris menyakitkan.
Kemampuan mengolah ekspresi wajah menjadi salah satu kekuatan terbesarnya. Dalam serial komedi Overcompensating karya Benito Skinner, Charli memanfaatkannya untuk humor.
Tatapan mata yang bergulir pelan, senyum tipis yang jelas palsu, dan lontaran dialog dengan nada vocal fry berlebihan, semuanya terasa presisi. Ia memerankan versi karikatural dirinya sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa ia sadar betul bagaimana citranya dibaca publik.
Jika ditelaah, peran-peran ini mungkin belum menunjukkan rentang akting yang sangat luas. Namun yang tampak jelas adalah kecerdikan dalam memilih proyek. Banyak musisi gagal di film karena mengira karisma panggung otomatis berlaku di depan kamera.
Beyoncé, misalnya, memancarkan pesona luar biasa, tetapi penampilannya di Dreamgirls dan Cadillac Records sering dinilai kaku. Charli tampaknya belajar dari kegagalan semacam itu.
Keberhasilan di film sering kali bergantung pada kecocokan peran dan kolaborator. Lady Gaga bersinar di A Star Is Born karena kisahnya selaras dengan perjalanan pribadinya. Ariana Grande menemukan ruang pas sebagai Glinda di Wicked. Tyler, the Creator tampil alami di bawah arahan Josh Safdie. Mereka bukan sekadar tampil, tetapi benar-benar ditempatkan di konteks yang tepat.
Dalam hal ini, selera Charli menjadi senjata rahasia. Kecintaannya pada film bukan isapan jempol. Akun Letterboxd miliknya sempat viral karena daftar tontonan yang eklektik dan sinematik.
Ia menyebut menonton film sebagai aktivitas utama ketika tidak bekerja atau berpesta. Referensi seperti Celine and Julie Go Boating karya Jacques Rivette menunjukkan bahwa ia tidak hanya mengikuti arus, tetapi benar-benar menyelami sejarah dan bahasa sinema.
Pilihan perannya pun sering lahir dari lingkar pertemanan, bukan strategi industri semata. Ia bertemu Peter Ohs lewat sahabatnya, Jeremy O Harris. Aidan Zamiri sudah lama bekerja dengannya lewat video musik.
Benito Skinner berkenalan dengannya di sebuah pesta. Pola ini memberi kesan bahwa proyek-proyek tersebut lebih didorong oleh rasa ingin tahu dan kesenangan kreatif, bukan ambisi karier yang kaku.
Di Sacrifice, ia bahkan menyebut perannya “sangat kecil” dan bermain bersama Yung Lean, yang ia panggil sebagai “adik bayi”-nya. Peran-peran ringan ini terasa seperti ruang bermain, bukan ujian berat. Justru di situlah daya tahannya mungkin terbentuk.
Langkah berikutnya adalah keterlibatannya dalam adaptasi Wuthering Heights garapan Emerald Fennell. Meski tidak tampil sebagai pemeran, Charli terlibat lewat jalur musik. Keputusan ini terasa cerdik.
Ia bisa menyentuh estetika gotik Emily Brontë, ikut menikmati gaung proyek besar, tanpa harus menanggung risiko penuh di layar. Ini menunjukkan strategi yang matang: hadir, tetapi tidak memaksakan diri.
Melihat keseluruhan perjalanan ini, Charli XCX tampaknya tidak ingin sekadar “berakting”. Ia ingin memahami medium film dari dalam, dengan ritme dan aturannya sendiri.
Ia tidak terburu-buru menjadi bintang layar lebar, tetapi membangun pijakan pelan-pelan, lewat peran kecil, kolaborasi intim, dan proyek yang sejalan dengan seleranya.
Apakah ia akan berhasil menaklukkan layar lebar seperti ia menaklukkan dunia pop? Jawabannya belum pasti. Namun satu hal jelas: Charli XCX datang ke sinema bukan sebagai turis yang singgah sebentar, melainkan sebagai penonton setia yang kini berani naik ke layar.
Dan dari cara ia melangkah—pelan, sadar, dan penuh rasa ingin tahu—ia tampak jauh lebih siap daripada banyak pendahulunya.
