Pemkot Palu Movia Kaili Days: Program Bahasa Daerah Masuk Sekolah

Hardi Kadisdikbud Kota Palu meninjau situs bersejarah di Indonesia
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Hardi, saat mengunjungi salah satu situs bersejarah di Indonesia. (Foto: dok. pribadi Hardi)

Palu. WARTA KAILIPamarenta Kota Palu samantara nompakasadia porogram Kaili Days, batuana ngana mposikola ante guru-guru ri Kota Palu mompake basa Kaili saeo ri ara saminggu. Porogram hi notujua supaya mompakaroso pendidikan nokadaka budaya lokal.

(Pemerintah Kota Palu tengah menyiapkan program Kaili Days, yakni penerapan penggunaan bahasa Kaili satu hari dalam sepekan di lingkungan sekolah.Program ini ditujukan untuk memperkuat pendidikan berbasis budaya lokal.)

Porogram haitu rakavia Dinas Pendidikan ante Kebudayaan Kota Palu. Panguli Kapala Dinas, Hardi, Surat Edaran (SE) anu rapake berimba movia porogram hi ri posikola samantara nisusu.

(Program tersebut akan dilaksanakan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu. Kepala Disdikbud, Hardi, mengatakan pihaknya sedang menyiapkan Surat Edaran (SE) sebagai dasar pelaksanaan program tersebut di seluruh satuan pendidikan).

Ri tempo saminggu atau rua minggu hi, SE hai ngena mesuvu mo. “Kabijaka hi batuana sabagai usaha mojagai basa Kaili asupaya ledo malipo. Cara na eva mompake basa Kaili ri posikola, saeo ria ra saminggu,” pangulu Hardi, eo Sine (2/2/2026).

(Surat Edaran mengenai penerapan Kaili Days dijadwalkan terbit dalam waktu dekat. “Kebijakan ini dimaksudkan sebagai langkah pelestarian bahasa dan budaya Kaili melalui aktivitas pembelajaran di sekolah,” kata Hardi, Senin (2/2/2026).

Ledo aga hai, Disdikbud mondata mpanjili paninggala budaya, nabiasa niuli situs budaya ri Kota Palu, asupaya mamala rapake ri palajara ri posikola. Niperapika posikola mompakeni ngane hau manjayo manggita-nggita lokasi no sojara, eva Sou Raja, dayo nu pahlawan ante ntaninapa.

Bacaan Lainnya

(Selain itu, Disdikbud Palu juga akan melakukan pendataan ulang terhadap sejumlah situs budaya di Kota Palu yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar di luar kelas. Sekolah nantinya didorong untuk memberi ruang bagi siswa melakukan kunjungan edukatif ke lokasi-lokasi bersejarah, seperti Sou Raja, makam pahlawan, dan situs budaya lainnya).

Panggava Hardi, situs budaya nipajadi media pombolajaran nisaromaka mamala mpajadika materi budaya ma kontekstual, ledo aga teori bayangi, mamala muni ngena mo bantu siswa mompahaka belo sajara ante identitas lokal.

(Menurut Hardi, pemanfaatan situs budaya sebagai media pembelajaran diharapkan dapat membuat materi kebudayaan lebih kontekstual, tidak semata bersifat teoritis, serta membantu siswa memahami sejarah dan identitas lokal daerahnya).

Ledo aga hai, panjayo ri situs hai ngena mamala muni modekei dampak ekonomi ka todea ri kawasan situs budaya,” pangulina.

(“Kunjungan siswa ini juga akan berdampak ekonomi ke masyarakat sekitar lingkungan situs budaya,” kata Hardi).(IKH)

Pos terkait