Bedah Buku Leaving Home: Mark Haddon Membuka Luka Masa Kecil dan Rumah yang Tak Pernah Hangat

Mark Haddon, penulis Inggris yang dikenal lewat The Curious Incident of the Dog in the Night-Time, dalam potret terbaru yang menyertai memoarnya Leaving Home. (Foto: Joel Redman)

Warta Kaili – Berangkat dari judulnya, Leaving Home, memoar terbaru Mark Haddon, sudah memberi isyarat bahwa buku ini bukan sekadar kisah tentang berpindah tempat, melainkan tentang usaha panjang meninggalkan luka.

Buku ini mengajak pembaca menelusuri masa kecil yang dingin, nyaris tanpa kasih sayang, sekaligus kehidupan dewasa yang penuh rintangan emosional. Dalam ulasan ini, kita tidak sedang menguliti penulis dengan pisau analisis psikologis yang kaku, melainkan mencoba mendengarkan suaranya—perlahan, jujur, dan apa adanya.

Upaya menganalisis kondisi batin seorang penulis lewat karya sastra memang selalu berisiko. Kita mencoba menebak isi kepala orang lain dari dalam kepala kita sendiri, melalui medium cerita yang sejak awal diciptakan untuk membujuk, bahkan menipu dengan indah.

Namun, godaan itu sulit dihindari, terutama ketika Mark Haddon secara terbuka menghamparkan hidupnya sendiri di halaman buku. Memoar ini terasa seperti undangan: masuklah, lihatlah, tapi bersiaplah untuk tidak nyaman.

Haddon bukan nama asing. Ia dikenal luas sejak The Curious Incident of the Dog in the Night-Time terbit pada 2003, sebuah novel yang memperkenalkan tokoh remaja dengan kesulitan berkomunikasi, yang pelan-pelan mengungkap kebohongan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Salah satu kebohongan paling menyakitkan adalah tentang ibunya yang dikatakan telah meninggal, padahal sebenarnya pergi bersama tetangga. Sang tokoh lalu memilih melarikan diri dari rumah.

Bertahun-tahun kemudian, membaca Leaving Home, kita menyadari bahwa tema pelarian, kebohongan, dan rumah yang tidak aman bukan sekadar fiksi. Ia tumbuh dari pengalaman hidup Haddon sendiri.

Bacaan Lainnya

Dilansir dari the Guardian, dan dirangkum serta ditulis kembali dengan gaya warta Kaili, memoar ini menggambarkan masa kecil yang didominasi ketiadaan cinta. Ibu Haddon digambarkan menarik diri dari kehidupan keluarga—berbaring di kamar, tenggelam dalam alkohol—sementara ayahnya hadir sebagai figur yang keras dan merendahkan.

Tidak ada pelukan yang menguatkan, tidak ada kata-kata yang menenangkan. Yang ada justru dengung panjang rasa diremehkan, seolah anak adalah beban yang tak pernah cukup baik.

Namun yang membuat Leaving Home berbeda adalah cara Haddon mengolah bahan mentah hidupnya. Ia tidak menuliskannya dalam satu nada. Kadang ia tampil sangat datar, seperti laporan kejadian: “ini terjadi.”

Di lain waktu, ia melompat ke dunia imajinasi, fantasi, dan mitologi klasik—ruang di mana tubuh bisa berubah bentuk, nasib bisa dipelintir, dan kenyataan bisa ditantang. Pergeseran ini memberi kelenturan kreatif, seakan ia mencari jarak aman dari luka, tanpa benar-benar meninggalkannya.

Buku ini juga sangat visual. Haddon tampaknya tidak puas hanya dengan kata-kata. Ratusan ilustrasi memenuhi halaman: foto kaki ibunya yang tua dengan luka terbuka yang membuat pembaca meringis, bekas sayatan operasi bypass jantungnya sendiri, hingga kolase nakal dan lukisan-lukisan ganjil yang nyaris surealis.

Dalam satu kartun kasar, seorang ayah pemain rugby membentak anaknya yang menangis: “Aku telah memperanakkan anak yang lemah.” Di bawahnya, ada balasan si anak: “Tapi dia akan menggambar wajahmu saat kamu MATI hahahaha.”

Humor gelap ini terasa seperti mekanisme bertahan hidup—tertawa di tengah rasa sakit yang tak pernah benar-benar sembuh.

Pertanyaan besar yang menggantung sepanjang buku adalah: bisakah seseorang pulih dari masa kecil yang tidak bahagia? Atau setidaknya, membalasnya dengan cara yang lebih bermakna? Dalam satu sisi, jawabannya iya.

Haddon berhasil membangun hidup di dunia sastra, memiliki keluarga sendiri, dan menjaga hubungan yang hangat dengan adiknya, Fiona. Ia menemukan kegembiraan dalam mencipta, berlari, dan menjalin relasi. Tetapi buku ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan tidak otomatis menghapus kerusakan lama.

Haddon tidak menutup-nutupi sisi gelap itu. Sejak awal, pembaca dihadapkan pada foto lengannya yang baru dijahit. Di atasnya, coretan gambar anjing dengan kaki berdarah dan tulisan sederhana namun menghantam:

“Dan apa, tepatnya, yang akan ini selesaikan?” Dua paragraf di sebelahnya menjelaskan kunjungannya ke unit gawat darurat. Ia melukai dirinya sendiri—bukan karena kecelakaan murni, melainkan karena kemarahan yang tak terkendali pada diri sendiri. Ia memilih pisau bedah baru, bukan gunting seperti biasanya, dan luka itu menjadi terlalu dalam.

Yang mengejutkan, peristiwa ini terjadi pada 2024. Tidak ada masa kedaluwarsa untuk rasa putus asa. Setelah amarah mereda, yang tersisa adalah rasa malu dan permintaan maaf kepada tenaga medis yang merawatnya. Emosi “malu” muncul berulang kali dalam buku ini, seperti bayangan yang terus mengikuti, bahkan ketika badai telah lewat.

Di sinilah Leaving Home terasa paling manusiawi. Ia tidak menawarkan solusi cepat, tidak menjual kisah penyembuhan instan. Yang ada adalah upaya mencatat, mengarsipkan, dan menamai luka-luka itu—seolah dengan menaruhnya di tempat yang jelas, ia bisa mencegahnya menguasai segalanya.

Buku ini menjadi semacam peta hidup: detail, menyakitkan, lucu, mengerikan, sekaligus membangkitkan.

Ada pula nostalgia yang membingungkan Haddon: kerinduan pada pemandangan, suara, bau, dan benda-benda tahun 1970-an. Masa yang, ironisnya, begitu melukainya, namun tetap memanggilnya kembali.

Jawaban sementara yang ia temukan adalah menuliskannya. Menuangkan kenangan itu ke dalam karya, bukan untuk memuliakan masa lalu, melainkan untuk hidup berdampingan dengannya tanpa terus-menerus tenggelam.

Sebagai sebuah memoar, Leaving Home bukan bacaan ringan. Ia menuntut empati, kesabaran, dan keberanian pembaca untuk ikut menatap sisi-sisi rapuh manusia lain. Namun justru di situlah kekuatannya.

Haddon tidak meminta dikasihani, tidak pula berpose sebagai pemenang mutlak atas masa lalunya. Ia hadir sebagai seseorang yang masih berjalan, masih jatuh-bangun, tetapi memilih jujur.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang Mark Haddon. Ia berbicara kepada siapa pun yang pernah merasa rumah bukan tempat paling aman, kepada mereka yang membawa luka lama ke usia dewasa, dan kepada pembaca yang percaya bahwa menceritakan pengalaman—betapapun pahitnya—adalah salah satu cara bertahan.

Leaving Home mengingatkan kita bahwa pergi dari rumah tidak selalu berarti meninggalkan alamat fisik. Kadang, itu berarti perlahan berdamai dengan ingatan, sambil terus melangkah, satu halaman demi satu halaman.

Pos terkait