Francisco Cerundolo Juara Argentina Open 2026: Momen Terbaik di Tanah Sendiri

Francisco Cerundolo mengangkat trofi Argentina Open 2026 di Buenos Aires.
Petenis Argentina, Francisco Cerundolo, merayakan kemenangan usai menjuarai Argentina Open 2026 di Buenos Aires. (Foto: AP)

Warta Kaili – Francisco Cerundolo juara Argentina Open 2026 menjadi kisah manis tentang penantian, keteguhan, dan pembuktian di rumah sendiri. Di tengah sorak sorai publik Buenos Aires, petenis tuan rumah itu akhirnya menebus kenangan pahit masa lalu dengan meraih gelar yang selama ini terasa begitu dekat, namun selalu terlepas.

Di final turnamen bergengsi Argentina Open 2026, Francisco Cerundolo tampil meyakinkan saat menundukkan unggulan kedua, Luciano Darderi, dengan skor 6-4, 6-2. Pertandingan berdurasi 97 menit itu bukan sekadar kemenangan dua set langsung. Itu adalah jawaban atas dua kegagalan sebelumnya sebagai runner-up pada 2021 dan 2025.

Set terakhir berjalan naik turun. Hampir setiap gim menghadirkan peluang break point. Tekanan terasa nyata. Namun, Cerundolo tidak goyah. Ia mengamankan enam dari tujuh peluang break point yang dihadapinya, termasuk lima peluang krusial di set pertama. Keteguhan itulah yang akhirnya mengantarkannya pada gelar keempat sepanjang karier profesionalnya—dan yang pertama di kandang sendiri.

“Ini mungkin momen terbaik dalam karier saya sejauh ini,” ucap Cerundolo dengan mata berbinar seusai pertandingan. Ia tidak sekadar berbicara tentang trofi, tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh kerja keras dan kekecewaan.

Penantian yang Terbayar Lunas

Bermain di depan keluarga, sahabat, dan publik negaranya sendiri memberi makna berbeda. Sejak turnamen ini pertama kali digelar pada 2001, tak banyak petenis Argentina yang mampu menjadi juara di rumah sendiri. Cerundolo kini tercatat sebagai petenis tuan rumah ketujuh yang berhasil melakukannya.

Bagi petenis berusia 27 tahun itu, kemenangan ini terasa personal. Ia mengakui sempat berjuang keras dalam beberapa musim terakhir untuk kembali mengangkat trofi, tetapi hasilnya selalu belum memuaskan.

“Saya benar-benar ingin menang di negara sendiri, bersama orang-orang yang selalu mendukung saya. Perasaan ini luar biasa,” katanya.

Bacaan Lainnya

Kemenangan ini juga mempertegas reputasinya sebagai spesialis lapangan tanah liat. Sejak awal musim 2024, Cerundolo telah mengoleksi 46 kemenangan di turnamen clay-court. Statistik itu bukan sekadar angka, melainkan cerminan konsistensi dan adaptasi teknis yang matang di permukaan favoritnya.

Duel Intens yang Sarat Emosi

Di sisi lain net, Darderi bukan lawan sembarangan. Petenis berusia 23 tahun itu lahir dan menghabiskan sebagian masa kecilnya di Argentina, sehingga atmosfer final juga memiliki makna emosional baginya. Namun dalam laga penentuan, Cerundolo tampil lebih agresif.

Ia tidak memberi ruang bagi Darderi untuk mengambil inisiatif. Pukulan forehand-nya tajam dan terukur. Pergerakannya lincah, seolah menolak membiarkan satu poin pun hilang begitu saja.

“Saya bermain sangat agresif. Saya tidak membiarkannya mengontrol poin. Ini final. Anda harus berjuang demi setiap poin,” jelas Cerundolo.

Secara head to head, kemenangan ini membuatnya unggul 3-2 atas Darderi. Meski gagal membawa pulang gelar kelima dalam kariernya, Darderi tetap mencatat pencapaian penting. Perjalanannya hingga final membuatnya diproyeksikan naik ke peringkat 21 dunia saat daftar peringkat terbaru dirilis.

Lebih dari Sekadar Gelar

Bagi publik Buenos Aires, kemenangan ini menghadirkan kebanggaan kolektif. Sorakan yang menggema bukan hanya untuk satu pertandingan, tetapi untuk perjalanan seorang atlet yang tumbuh bersama harapan bangsanya.

Cerundolo kini berada di peringkat 19 dunia. Namun trofi di Buenos Aires terasa lebih berharga daripada sekadar kenaikan poin ranking. Ia adalah simbol kedewasaan mental. Simbol keteguhan untuk bangkit setelah dua kali gagal di final yang sama.

Ada sesuatu yang berbeda ketika seorang atlet menang di rumah sendiri. Tekanannya berlipat ganda, ekspektasi menggunung. Namun justru dalam tekanan itulah karakter diuji. Cerundolo lulus dengan gemilang.

Di tengah lapangan tanah liat yang menjadi saksi sejarah, ia berdiri dengan senyum lega. Tidak berlebihan jika ia menyebutnya sebagai momen terbaik dalam kariernya sejauh ini. Sebab kemenangan ini bukan hanya tentang mengangkat trofi, tetapi tentang menutup luka lama dan menuliskan babak baru dengan tinta emas.

Buenos Aires akhirnya menjadi tempat di mana penantian panjang itu berakhir—dan di sanalah Francisco Cerundolo menemukan momen terbaiknya.***

Pos terkait