Warta Kaili – Alexandra Eala Meluncur Dramatis di Dubai setelah lawannya, Hailey Baptiste, memutuskan mundur di tengah pertandingan babak pertama Dubai Tennis Championships musim 2026.
Kemenangan itu memang tidak berakhir dengan tos di net seperti biasanya, tetapi tetap menjadi langkah penting dalam perjalanan karier sang petenis muda Filipina.
Bertanding dengan status peringkat tertinggi sepanjang kariernya—peringkat 40 dunia—Alexandra Eala tampil penuh keyakinan. Ia mengamankan set pertama dengan skor 6-4 dalam duel yang naik turun selama kurang lebih 45 menit.
Ritme pertandingan sempat berubah cepat, reli demi reli berlangsung ketat, dan kedua pemain saling menekan dari baseline.
Memasuki set kedua, pertandingan baru berjalan satu gim ketika Hailey Baptiste memilih menghentikan laga. Saat itu Eala unggul 6-4, 0-1. Baptiste sebelumnya harus melalui perjuangan berat di babak kualifikasi. Ia kalah dari Rebecca Sramkova, namun tetap masuk undian utama sebagai lucky loser.
Di gim pembuka set kedua, Baptiste bahkan bertahan melewati tujuh kali deuce—sebuah pertanda betapa keras ia mencoba bertahan. Namun kondisi fisik tampaknya tidak lagi memungkinkan.
Empati di Tengah Kemenangan
Bagi Eala, kemenangan seperti ini bukanlah yang paling ideal. Ia tidak menutup rasa empatinya kepada sang lawan.
“Tidak ada seorang petenis pun yang menyukai menang dengan cara seperti itu. Di level WTA, saya mulai benar-benar memahami betapa sulitnya menjaga kondisi tubuh tetap prima. Saya berharap Hailey baik-baik saja dan bisa segera bangkit,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan kedewasaan Eala. Di usia yang masih sangat muda, ia tak sekadar mengejar hasil, tetapi juga memahami kerasnya tuntutan tur profesional. Jadwal padat, perpindahan zona waktu, dan intensitas pertandingan membuat kebugaran menjadi ujian tersendiri.
Meski demikian, langkah ke babak kedua tetap menjadi pencapaian berharga. Turnamen sekelas Dubai menghadirkan atmosfer berbeda—penonton internasional, tekanan tinggi, dan deretan unggulan papan atas.
“Saya sangat gembira berada di babak selanjutnya. Turnamen seperti ini memberi pengalaman yang sangat berarti. Saya berusaha menikmati setiap momen di lapangan,” tambahnya.
Tantangan Berat Menanti: Jasmine Paolini
Di babak kedua, Eala akan menghadapi unggulan keenam, Jasmine Paolini. Pertemuan ini menjadi yang pertama bagi keduanya.
Paolini dikenal solid dari baseline dan memiliki konsistensi pukulan yang stabil. Bagi Eala, ini adalah ujian nyata untuk mengukur progresnya sebagai petenis Top 50 dunia. Laga tersebut berpotensi menjadi panggung pembuktian: apakah Eala siap melangkah lebih jauh atau masih perlu waktu untuk menembus lingkar elite.
Namun satu hal pasti, kepercayaan dirinya sedang bertumbuh. Berada di peringkat 40 dunia bukan sekadar angka, melainkan simbol bahwa ia kini berdiri sejajar dengan nama-nama besar.
Aksi Lain di Dubai: Sara Bejlek Terus Panas
Sementara itu, sorotan lain datang dari petenis Ceko, Sara Bejlek. Juara Abu Dhabi Open 2026 itu mempertahankan performa impresifnya dengan kemenangan meyakinkan 6-2, 6-2 atas petenis Turki, Zeynep Sonmez.
Dalam pertandingan berdurasi 1 jam 15 menit, Bejlek mencatat delapan kemenangan beruntun di Timur Tengah bulan ini. Statistik menunjukkan keduanya sama-sama mencetak 15 winner dan melakukan lima pelanggaran ganda. Namun efektivitas menjadi pembeda: Bejlek mengonversi enam dari sepuluh peluang break point, sementara Sonmez hanya dua dari tujuh.
“Secara mental itu pertandingan yang sangat menantang. Delapan kemenangan beruntun terdengar luar biasa. Saya senang dengan permainan dan perasaan saya di lapangan,” ungkapnya.
Di babak kedua, Bejlek akan berhadapan dengan unggulan kesembilan, Belinda Bencic, atau petenis Spanyol Jessica Bouzas Maneiro.
Kembali ke Eala, kemenangan ini mungkin tidak dramatis dalam durasi, tetapi bermakna dalam perjalanan. Di tur profesional, kadang langkah maju datang dalam bentuk yang tak terduga. Lawan mundur, laga terhenti, dan skor tak lengkap—semuanya tetap tercatat sebagai bagian dari proses.
Bagi Eala, Dubai bukan sekadar turnamen. Ia adalah panggung pembelajaran, tempat mental diuji dan konsistensi ditempa. Kini, dengan tantangan besar menanti di babak kedua, publik tenis Asia Tenggara menaruh harapan.
Apakah langkahnya akan terus meluncur? Jawabannya akan ditentukan di lapangan.***
