Bukan Sekadar Boramae dan K-Pop, Menagih Pemerataan Transfer Teknologi di Luar Pulau Jawa

Transfer Teknologi Indonesia-Korea Selatan dalam proyek pengembangan jet tempur KF-21 Boramae yang menjadi simbol kerja sama pertahanan kedua negara.
Transfer Teknologi Indonesia-Korea Selatan melalui proyek jet tempur KF-21 Boramae yang melibatkan pilot TNI AU dalam uji terbang di Sacheon, Korea Selatan. (Foto: Dispenau via the Strategy)

Momentum Transformatif di Seoul

Dalam hubungan antarnegara, ukuran keberhasilan sebuah kemitraan bukanlah banyaknya nota kesepahaman yang ditandatangani, melainkan sejauh mana kerja sama itu menghasilkan manfaat nyata bagi kedua pihak.

Dalam konteks hubungan Indonesia dan Korea Selatan, manfaat tersebut semakin terlihat ketika kerja sama kedua negara bergerak melampaui perdagangan dan investasi menuju bidang-bidang strategis seperti pertahanan, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan pengembangan sumber daya manusia.

Arah baru kemitraan tersebut kembali ditegaskan melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada tahun 2026. Di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat dan ancaman siber yang terus berkembang, Jakarta dan Seoul sepakat memperkuat kolaborasi pada tiga bidang utama: industri pertahanan, transformasi digital berbasis AI, dan pengembangan SDM.

Bagi Indonesia, ketiga bidang ini bukan sekadar agenda kerja sama luar negeri, melainkan bagian dari upaya memperkuat kapasitas nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Sayap Boramae dan Peluang Transfer Teknologi

Salah satu simbol paling nyata dari kemitraan tersebut adalah proyek pengembangan jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae atau IF-21 untuk varian Indonesia. Proyek yang melibatkan Korea Aerospace Industries (KAI) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ini lebih penting daripada sekadar pengadaan alutsista baru. Nilai strategisnya terletak pada peluang transfer teknologi yang menyertainya.

Melalui keterlibatan dalam proyek ini, Indonesia memperoleh akses untuk mempelajari proses perancangan, integrasi sistem, manufaktur komponen, hingga pemeliharaan pesawat tempur modern.

Serangkaian uji terbang yang telah melibatkan penerbang TNI AU serta dimulainya produksi massal di Korea Selatan menunjukkan bahwa proyek ini bergerak ke tahap yang semakin konkret.

Bacaan Lainnya

Dengan kontribusi sekitar 20 persen dari total investasi, keuntungan terbesar Indonesia bukan hanya kepemilikan pesawat tempur di masa depan, melainkan kesempatan membangun kapasitas insinyur nasional.

Jika dikelola secara konsisten, proyek KF-21 dapat menjadi batu loncatan menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia yang selama ini menjadi cita-cita jangka panjang.

AI dan Pertahanan Negara Kepulauan

Namun, kekuatan pertahanan modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan platform tempur. Di era peperangan berbasis data, keunggulan teknologi semakin ditentukan oleh kemampuan mengolah informasi secara cepat dan akurat. Karena itu, kerja sama AI antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi sama pentingnya dengan proyek KF-21.

Sebagai negara kepulauan yang memiliki tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Indonesia menghadapi tantangan pengawasan wilayah yang sangat luas. Aktivitas pencurian ikan, penyelundupan, perdagangan ilegal, hingga potensi infiltrasi aktor asing sering kali terjadi di wilayah yang sulit dipantau secara konvensional.

Dalam konteks ini, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem pemantauan maritim yang mampu mendeteksi pola pergerakan kapal secara real time, mengidentifikasi aktivitas mencurigakan, serta membantu pengambilan keputusan yang lebih cepat.

Pengalaman Korea Selatan dalam pengembangan teknologi digital dapat menjadi modal penting untuk memperkuat sistem pertahanan maritim Indonesia.

Selain itu, kerja sama AI juga relevan untuk memperkuat ketahanan siber nasional, melindungi infrastruktur strategis, dan meningkatkan kemampuan analisis data intelijen.

Kombinasi antara kekuatan udara melalui KF-21 dan sistem keamanan digital berbasis AI akan menghasilkan postur pertahanan yang lebih adaptif terhadap ancaman masa depan.

Menembus Batas Sentralisasi

Meski demikian, transfer teknologi hanya akan menghasilkan dampak terbatas jika manfaatnya berhenti di Jakarta, Bandung, atau Surabaya.

Tantangan terbesar Indonesia bukan semata memperoleh teknologi, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat diakses dan dikembangkan oleh talenta dari berbagai daerah.

Gagasan ini sejalan dengan hasil berbagai forum kerja sama Indonesia–Korea Selatan yang menekankan pentingnya diplomasi publik dan penguatan hubungan antarmasyarakat.

Selama dua dekade terakhir, budaya populer Korea atau Hallyu telah berhasil menarik perhatian generasi muda Indonesia. Tantangannya sekarang adalah mengubah ketertarikan budaya tersebut menjadi minat terhadap sains, teknologi, dan inovasi.

Sebagai warga yang tumbuh di Sulawesi Tengah, saya melihat persoalan ini secara langsung. Ketika isu kecerdasan buatan, industri pertahanan, dan transformasi digital ramai diperbincangkan di Jakarta, banyak sekolah dan perguruan tinggi di daerah masih berjuang mendapatkan akses laboratorium yang memadai, pelatihan teknologi mutakhir, maupun jejaring internasional.

Di banyak kampus daerah, mahasiswa teknologi informasi masih lebih sering belajar melalui simulasi perangkat lunak daripada berinteraksi langsung dengan ekosistem industri teknologi yang sesungguhnya.

Karena itu, pemerataan transfer teknologi harus menjadi bagian dari agenda kerja sama Indonesia–Korea Selatan. Pemerataan tidak akan terjadi dengan sendirinya. Ia perlu dirancang sejak awal melalui kebijakan yang jelas dan terukur.

Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah membangun Defense-AI Innovation Corridor yang menghubungkan Palu, Makassar, dan Surabaya. Setiap wilayah dapat memainkan peran yang berbeda sesuai keunggulannya.

Surabaya dapat menjadi pusat integrasi industri pertahanan maritim, Makassar memperkuat dukungan operasional kawasan timur Indonesia, sementara Palu dapat dikembangkan sebagai lokasi pusat cadangan data strategis dengan tetap memperhatikan mitigasi risiko kebencanaan.

Langkah berikutnya adalah membentuk Korea–Indonesia Regional AI Academy di Indonesia Timur. Keberadaan lembaga ini dapat memanfaatkan jejaring yang telah terbangun antara Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Tadulako, dan berbagai mitra pendidikan di Korea Selatan untuk memperluas akses pelatihan teknologi bagi mahasiswa daerah.

Program lain yang tidak kalah penting adalah penyediaan beasiswa teknologi pertahanan bagi pemuda dari wilayah 3T, penguatan pusat transfer teknologi dirgantara di luar Jawa, serta peluncuran program pelatihan 1.000 talenta AI dan pertahanan Indonesia–Korea hingga tahun 2030. Berbeda dengan proyek fisik yang manfaatnya sering terkonsentrasi pada satu lokasi, investasi pada manusia memiliki dampak yang jauh lebih luas dan berkelanjutan.

Langkah-langkah tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Di Sulawesi Tengah, misalnya, Pemerintah Provinsi tengah menjajaki kerja sama Sister Province dengan Jeollanam-do, sementara Korean Cultural Center terus memperluas jangkauan programnya kepada generasi muda daerah. Tantangannya adalah meningkatkan orientasi kerja sama tersebut dari sekadar pertukaran budaya menuju penguatan kapasitas teknologi dan inovasi.

Konklusi

Kemitraan Indonesia dan Korea Selatan hari ini bukan lagi sekadar cerita tentang Boramae atau popularitas K-Pop. Di balik itu terdapat peluang besar untuk mempercepat transfer teknologi, memperkuat pertahanan nasional, dan membangun SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat global.

Keberhasilan kemitraan ini pada akhirnya tidak diukur dari berapa banyak pesawat yang diproduksi atau berapa besar nilai investasinya. Ukurannya adalah apakah anak-anak muda di Palu, Kupang, Ternate, dan Merauke memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi insinyur, peneliti AI, dan pelaku industri pertahanan masa depan.

Catatan Redaksi / Disclaimer:

Artikel Analisis Strategis ini ditulis oleh Ikhsan Madjido, Pemimpin Redaksi wartakaili.com, sebagai bentuk partisipasi intelektual publik dan sumbangsih pemikiran dalam Lomba Menulis Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) 2026. Pemuatan naskah opini ini pada portal wartakaili.com telah melalui proses peninjauan standar kode etik dan evaluasi internal redaksi.

Pos terkait