Warta Kaili – Makanan di pintu kulkas sering menjadi pilihan praktis, apalagi di bulan Ramadan ketika banyak orang menyiapkan stok bahan makanan lebih banyak dari biasanya. Telur, saus, minuman, hingga mentega kerap disusun rapi di rak pintu karena mudah dijangkau. Namun, tahukah kita bahwa kebiasaan ini tidak selalu tepat?
Saat Ramadan, aktivitas memasak dan menyiapkan sahur maupun berbuka meningkat. Banyak keluarga menyimpan telur di pintu kulkas karena tersedia rak khusus berbentuk cekungan kecil. Secara tampilan, memang terlihat pas. Namun, secara ilmiah, itu bukan lokasi terbaik.
Pintu kulkas adalah bagian yang paling sering mengalami perubahan suhu. Setiap kali kulkas dibuka, udara hangat dari luar langsung masuk dan pertama kali menyentuh area pintu. Proses pemanasan dan pendinginan yang berulang inilah yang dapat memengaruhi kualitas bahan makanan tertentu.
Selain telur, ada satu bahan yang juga sering keliru disimpan di sana: mentega.
Mentega dan Fluktuasi Suhu yang Tak Terlihat
Menurut ahli gizi Kathleen Benson, rak kecil tertutup di pintu kulkas awalnya memang dirancang untuk menyimpan mentega yang cepat habis, sekitar satu minggu.
“Rak kecil yang tertutup itu awalnya dirancang untuk mentega yang cepat habis, dalam waktu sekitar satu minggu,” ujarnya seperti dikutip dari Reader’s Digest.
Artinya, jika Anda membeli mentega dan menggunakannya dalam waktu singkat, menyimpannya di pintu kulkas masih bisa ditoleransi. Namun, bila mentega disimpan lebih dari seminggu, sebaiknya dipindahkan.
Masalah utama terletak pada fluktuasi suhu. Setiap kali pintu dibuka, mentega mengalami siklus hangat-dingin secara berulang. Proses ini membuat mentega melunak lalu mengeras kembali. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut mempercepat pembusukan dan ketengikan.
Mengapa Perubahan Suhu Makanan di Pintu Kulkas Berbahaya?
Mentega mengandung lemak yang sensitif terhadap suhu dan cahaya. Ketika mengalami pemanasan dan pendinginan berulang, struktur lemaknya berubah. Akibatnya, rasa mentega bisa menjadi lebih asam, teksturnya kasar, bahkan aromanya tengik.
Jika mentega yang sudah berubah kualitasnya digunakan untuk memasak atau olesan roti, rasa makanan ikut terpengaruh. Bukan hanya soal cita rasa, kondisi ini juga bisa berdampak pada kesehatan, terutama jika mentega sudah mulai teroksidasi.
Perubahan kecil yang mungkin tidak langsung terlihat itu sering kali luput dari perhatian. Kita baru menyadarinya saat rasa masakan terasa berbeda.
Area Terbaik untuk Menyimpan Mentega
Dibandingkan meletakkan makanan di pintu kulkas, mentega sebaiknya disimpan di rak tengah atau rak atas kulkas. Bagian ini memiliki suhu yang lebih stabil dan lebih dingin dibanding pintu.
Suhu yang konsisten membantu memperlambat proses oksidasi dan menjaga kualitas lemak dalam mentega. Selain itu, area tersebut lebih terlindung dari paparan cahaya yang juga dapat memengaruhi rasa.
Satu hal penting lainnya: pastikan mentega disimpan dalam kemasan tertutup rapat. Penutup yang baik mencegah mentega menyerap bau dari makanan lain di dalam kulkas. Bau bawang, ikan, atau makanan berbumbu tajam dapat dengan mudah terserap oleh lemak mentega.
Berapa Lama Mentega Bisa Bertahan?
Mentega tawar (unsalted butter) umumnya dapat bertahan hingga tiga bulan jika disimpan di bagian terdingin kulkas. Sementara itu, mentega asin (salted butter) bisa bertahan lebih lama, bahkan hingga lima bulan, berkat kandungan garam yang membantu memperlambat pertumbuhan mikroorganisme.
Namun, angka ini berlaku jika penyimpanannya tepat. Jika terus-menerus terpapar fluktuasi suhu di pintu kulkas, masa simpannya bisa lebih pendek dari seharusnya.
Karena itu, penting untuk membaca tanggal kedaluwarsa dan memperhatikan perubahan warna, aroma, serta tekstur sebelum digunakan.
Bagaimana dengan Telur?
Meski artikel ini menyoroti mentega, telur juga termasuk bahan yang tidak ideal disimpan sebagai makanan di pintu kulkas. Alasannya sama: suhu yang tidak stabil.
Telur membutuhkan suhu dingin yang konsisten agar kualitasnya terjaga dan pertumbuhan bakteri bisa ditekan. Rak bagian dalam kulkas, terutama di tengah, jauh lebih stabil dibanding pintu.
Beberapa kulkas memang menyediakan wadah khusus telur di pintu. Namun, itu lebih karena alasan desain dan kemudahan akses, bukan karena pertimbangan ilmiah tentang stabilitas suhu.
Kebiasaan Kecil, Dampak Besar
Sering kali, kita tidak menyadari bahwa kebiasaan sederhana seperti menata bahan makanan di kulkas memiliki dampak jangka panjang. Di tengah kesibukan, apalagi saat Ramadan, yang terpenting memang kepraktisan. Tetapi menjaga kualitas bahan makanan juga bagian dari upaya merawat kesehatan keluarga.
Memindahkan mentega dan telur dari pintu kulkas ke rak tengah hanya butuh beberapa detik. Namun, langkah kecil tidak menyimpan makanan di pintu kulkas bisa memperpanjang masa simpan, menjaga rasa makanan tetap optimal, dan mengurangi risiko pembusukan.
Kulkas bukan sekadar tempat menyimpan, melainkan sistem penyimpanan dengan zona suhu berbeda. Memahami cara kerjanya membantu kita memanfaatkannya secara maksimal.
Penutup: Lebih Teliti, Lebih Aman
Makanan di pintu kulkas memang tampak rapi dan mudah dijangkau. Namun, tidak semua bahan cocok disimpan di sana. Mentega dan telur termasuk yang sebaiknya dipindahkan ke area dengan suhu lebih stabil.
Jangan pula menyimpan daging dan tulang untuk kaledo.
Dengan memahami karakter setiap bahan makanan, kita bisa menghindari pemborosan sekaligus menjaga kualitas konsumsi harian. Di bulan Ramadan maupun hari-hari biasa, perhatian pada detail kecil seperti ini menjadi bentuk kepedulian sederhana terhadap kesehatan keluarga.
Karena pada akhirnya, dapur yang terkelola baik bukan hanya soal resep lezat, tetapi juga tentang cara menyimpan yang tepat dan bijak.***
