Hari Bahasa Ibu Internasional: 7 Cara Inspiratif dan Elegan Merayakannya

Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari dengan penampilan bahasa daerah dan kampanye pelestarian bahasa ibu.
Suasana peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dengan pertunjukan seni dan pembacaan puisi bahasa daerah oleh generasi muda di ruang publik.(Foto: Dok Kemendikdasmen)

Warta Kaili – Hari Bahasa Ibu Internasional bukan sekadar tanggal merah dalam kalender global. Setiap 21 Februari, dunia diajak berhenti sejenak untuk mengingat satu hal yang sering luput kita syukuri: bahasa pertama yang kita dengar dari ibu, dari keluarga, dari lingkungan terdekat kita. Bahasa yang membentuk cara kita berpikir, merasakan, dan memahami dunia.

Tahun 2025 menjadi momen istimewa karena peringatan ini memasuki usia ke-25. Seperempat abad sudah dunia merayakan keberagaman bahasa di bawah inisiatif UNESCO. Momentum ini bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan pengingat serius bahwa bahasa adalah fondasi pendidikan, pembangunan berkelanjutan, dan pelestarian budaya.

Data global menunjukkan terdapat lebih dari 8.000 bahasa di dunia. Namun, ironi muncul ketika hampir 40 persen di antaranya terancam punah. Setiap dua minggu, satu bahasa daerah hilang. Bersamanya, hilang pula cerita rakyat, pengetahuan lokal, dan cara unik memandang kehidupan.

Di Sulawesi Tengah, kehadiran Warta Kaili menjadi bagian dari upaya menjaga nyala bahasa daerah, khususnya Bahasa Kaili. Sebuah langkah kecil, tetapi bermakna.

Apa Itu Hari Bahasa Ibu Internasional?

Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap 21 Februari untuk merayakan keberagaman linguistik dunia. Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari seseorang sejak kecil—bahasa yang digunakan untuk memanggil ibu, bercakap dengan keluarga, dan mengenal lingkungan sosial.

Penetapan hari ini tidak lahir begitu saja. Pada tahun 1999, UNESCO secara resmi menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Keputusan ini berakar pada tragedi yang terjadi di Dhaka pada 1952, ketika mahasiswa memperjuangkan pengakuan bahasa Bengali sebagai bahasa resmi. Peristiwa berdarah itu menjadi simbol kuat perjuangan hak linguistik dan penghormatan terhadap identitas budaya.

Sejak saat itu, setiap tahun dunia diajak untuk merawat bahasa sebagai warisan peradaban.

Bacaan Lainnya

Mengapa Bahasa Ibu Sangat Penting?

1. Bahasa adalah Identitas Budaya

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia menyimpan sejarah, nilai, cara berpikir, dan kearifan sebuah komunitas. Dalam bahasa, tersimpan cara nenek moyang menamai alam, memahami musim, merawat hubungan sosial, dan mengajarkan etika.

Ketika sebuah bahasa punah, hilang pula sudut pandang unik terhadap dunia.

2. Bahasa Mendukung Pendidikan yang Inklusif

Anak-anak belajar paling efektif ketika menggunakan bahasa yang mereka pahami dengan baik. Namun, secara global, sekitar 40 persen pelajar tidak mendapatkan pendidikan dalam bahasa ibu mereka. Kondisi ini berdampak pada kualitas pembelajaran dan rasa percaya diri.

Karena itu, pendidikan multibahasa menjadi isu penting yang terus didorong secara global.

3. Bahasa Menjaga Keberagaman Dunia

Keberagaman bahasa adalah kekayaan umat manusia. Setiap bahasa adalah arsip hidup pengetahuan lokal: pengobatan tradisional, sistem pertanian, filosofi hidup, hingga tata kelola sosial.

Melestarikan bahasa berarti menjaga keberagaman cara berpikir manusia.

Tema Global dan Peran Generasi Muda

Untuk peringatan 2026, UNESCO mengusung tema “Youth Voices on Multilingual Education” atau “Suara Pemuda dalam Pendidikan Multibahasa”. Tema ini menegaskan bahwa anak muda bukan sekadar pewaris bahasa, melainkan aktor utama yang menentukan masa depannya.

Di era digital, generasi muda memiliki ruang luas untuk menciptakan konten dalam bahasa daerah: video pendek, podcast, cerita digital, hingga musik. Teknologi bukan ancaman, melainkan peluang.

Hari Bahasa Ibu Internasional: 7 Cara Inspiratif Merayakannya

Berikut tujuh cara keren dan elegan merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional yang bisa dilakukan siapa saja.

1. Gunakan Bahasa Ibu dalam Percakapan Sehari-hari

Tidak perlu menunggu acara resmi. Gunakan bahasa ibu di rumah, di lingkungan komunitas, atau dalam percakapan santai. Mengucapkan salam, bercanda, atau berdiskusi dalam bahasa daerah adalah bentuk pelestarian paling sederhana.

Bahasa akan tetap hidup jika terus dipakai.

2. Menulis dan Membaca dalam Bahasa Daerah

Cobalah menulis puisi, cerita pendek, atau pengalaman pribadi dalam bahasa ibu. Bacakan dongeng kepada anak-anak menggunakan bahasa daerah. Aktivitas ini bukan hanya memperkaya kosakata, tetapi juga mempererat ikatan emosional antargenerasi.

3. Belajar Tata Bahasa dengan Benar

Menggunakan bahasa saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami kaidahnya. Pelajari kembali struktur kalimat, kosakata, dan ungkapan khas agar bahasa tetap otentik dan tidak tergerus pencampuran berlebihan.

Ketepatan berbahasa menunjukkan penghormatan.

4. Ajarkan kepada Generasi Muda

Anak-anak dan remaja adalah kunci keberlanjutan bahasa. Biasakan mereka mendengar dan menggunakan bahasa ibu sejak dini. Jadikan bahasa daerah sebagai bagian alami dari keseharian, bukan sekadar simbol acara adat.

Baca juga : https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/berita-detail/4800/dukung-generasi-muda-berbahasa-daerah-badan-bahasa-selenggarakan-pekan-peringatan-hari-bahasa-ibu-internasional-2026

5. Manfaatkan Media Digital

Buat konten media sosial dalam bahasa ibu. Rekam cerita rakyat, wawancara tokoh adat, atau tutorial sederhana dalam bahasa daerah. Kehadiran bahasa lokal di ruang digital memperluas jangkauan dan meningkatkan kebanggaan kolektif.

6. Gelar Diskusi atau Pertunjukan Budaya

Komunitas dapat mengadakan lomba pidato, baca puisi, atau pentas seni berbahasa daerah. Ruang publik seperti ini memperkuat rasa memiliki sekaligus membangun kebanggaan terhadap identitas lokal.

7. Dukung Media Lokal

Mendukung media yang konsisten menggunakan bahasa daerah adalah langkah konkret. Di Sulawesi Tengah, Warta Kaili hadir sebagai ruang literasi yang berupaya menjaga eksistensi Bahasa Kaili melalui pemberitaan dan konten budaya.

Baca juga: https://wartakaili.com/pemkot-palu-movia-kaili-days-program-bahasa-daerah-masuk-sekolah/

Bahasa Ibu dan Masa Depan yang Damai

Bahasa memiliki kekuatan menyatukan. Ia menjembatani perbedaan, membangun empati, dan menumbuhkan rasa saling menghargai. Ketika bahasa ibu dihormati, identitas seseorang diakui. Dari sanalah rasa percaya diri dan kohesi sosial tumbuh.

Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional sejatinya adalah ajakan untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan damai. Bahasa bukan alat pemisah, melainkan penghubung.

Refleksi: Jangan Malu Berbahasa Daerah

Di tengah arus globalisasi, sering muncul anggapan bahwa bahasa asing lebih prestisius. Padahal, kemampuan multilingual justru menjadi kekuatan. Menguasai bahasa internasional penting, tetapi menjaga bahasa ibu adalah tanggung jawab moral dan kultural.

Tidak ada yang kurang modern dari berbicara dalam bahasa daerah. Sebaliknya, ada kebanggaan yang tumbuh ketika kita mampu berdiri tegak dengan identitas sendiri.

Penutup

Hari Bahasa Ibu Internasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap kata yang kita ucapkan, ada sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bahasa ibu menyimpan cerita masa lalu dan harapan masa depan. Ia membentuk siapa kita, dan bagaimana kita memandang dunia.

Merayakan hari ini berarti mengambil sikap: tidak membiarkan bahasa kita hilang perlahan. Tidak merasa malu menggunakannya. Tidak ragu mewariskannya.

Selamat merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional. Mari jaga bahasa kita, karena di dalamnya hidup identitas, martabat, dan kebanggaan kita bersama.***

Pos terkait