Kolombio bo Ngana Pailu: 3 Tahun Menunggu, Anak Yatim Menaklukkan Raksasa

Kolombio bo Ngana Pailu
Kolombio Bo Ngana Pailu — keberanian anak yatim perempuan menghadapi raksasa, kisah rakyat Kaili tentang kecerdikan yang menaklukkan kekuatan. (Foto: AI generated)

Warta Kaili — Kolombio Bo Ngana Pailu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kaili sebagai kisah yang sederhana, namun menyimpan lapisan makna yang dalam. Cerita tentang raksasa dan anak yatim piatu ini tidak hanya diwariskan sebagai hiburan pengantar tidur, tetapi sebagai cermin nilai: tentang kesabaran, kecerdikan, dan daya hidup manusia kecil di hadapan kekuasaan besar.

Tempo nggaulu natuvu sambaa kolombio ia nompiara sambaa ngana besi napailu, ngana besi yaa niparana tapi daa nipis ana Eva anana mboto tapi naria patujuna ,motongoraka tempona mabete. Butu mpae kolombio nekutana mpebelo, tapi niana najaa niulina.

“Kempe-kempe nabetemo atemu?,”

(Dahulu kala, hiduplah seorang raksasa yang memelihara seorang anak perempuan yatim piatu. Anak itu tinggal bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai sesuatu yang “ditunggu waktunya”. Setiap tahun, raksasa itu mengajukan pertanyaan yang sama, dengan nada yang terdengar lembut, tetapi menyimpan niat jahat).

(“Manis, apakah hatimu sudah besar?”)

Rimpae hai, nesono ngane etu, “Da’apa, da eva tava nggadue”. Nangepe pesana nu ngana etu kolombio nalino vo’umo. Sangga nagana ruampae ngana neto’o ri jaina, nekutana vo’umo kolombio.

“Kempe-kempe, nabose mo ate mu?”. “Da’apa, da eva tava nggadue,” pesana nu ngana pailu.

Bacaan Lainnya

“O, da’apa nabete. Mana masaeka kumpu-kempe mabete, damo sampae kasaena,” pompekiri kolombio.

(Tahun pertama, anak itu menjawab jujur dan polos. Hatinya masih kecil, seperti daun keladi muda. Tahun kedua, jawabannya sedikit berubah, tetapi maknanya sama: belum cukup besar. Raksasa diam. Ia menunggu).

Menunggu bukan karena sayang, tetapi karena lapar (Nantongoroka nte ara ntai)

Sangga naganapa tolumpae ngana neto’o ri jaina, nipekutana vo’umo.

“Nebete mo atemu?”, pekutana na. Nesono ngana pailu, “Nabetemo, eva tava nu bia tinana.”

Nangepe etu, nadamba mpu’u rara kolombia, sabana namalamo ngana etu rapajadina panggonina.

(Pada tahun ketiga, jawaban anak itu berubah. Hatinya kini “besar, seperti daun induk bia”. Bagi raksasa, kalimat itu bukan pertanda kedewasaan batin, melainkan isyarat bahwa tubuh itu siap disantap).

https://wartakaili.com/nangeva-madika-sigi-perjuangan-tadulako-bulili-dalam-cerita-rakyat-sulteng/

Da’a naeka ngana etu, niturusina patuju kolombia. Nipombayuna mo pae pulu bo niporiapuna. Pekirina najala, apa ninjanina vengi etu manamo ia matuvu.

(Alih-alih ketakutan, anak yatim piatu justru menunjukkan ketenangan. Ia menuruti perintah raksasa untuk menumbuk dan memasak ketan. Namun, di balik kepatuhan itu, pikirannya bekerja cepat. Ia tahu malam itu bisa menjadi malam terakhir dalam hidupnya).

Nompopea kolombia nanjayo anu nasaempu, da’a narata-rata. Jadi ira mana nantaha sampe nangantu. Saoungu akala nu ngana pailu etu nanguli ka ana kolombia.

Da’apa kita moturu, agina kita mosinjula buya bo baju”.
Nanguli ana kolombia, “O, iyo.”

Ninjani nu ngana pailu mami patuju nu kolombia pangane, madota mompatesi ia bo manggoni ia.

(Ketika rasa kantuk datang dan raksasa belum kembali, anak itu mengajak anak raksasa—yang polos dan tak tahu apa-apa—untuk menukar sarung dan pakaian. Sebuah siasat sederhana, lahir dari naluri bertahan hidup).

Tempona ira nalumpi, naratamo kolombia ante nompenede mpuu, ala da’a raepe nu ngana pailu etu. Nompalumamo kolombio nangala ngane etu nisambalena bo nitompona nipajadi uta ntibo to niporiapu nu ngana pailu pangane. Ritempona kolombio nangala ngana etu rasambalena, da’a navela ngana pailu to nisambalena aga anana mboto.

(Saat raksasa pulang dengan langkah mengendap, ia tidak menyadari jebakan yang telah dipasang. Dalam gelap, ia menyembelih dan memakan tubuh yang dikiranya anak yatim piatu. Padahal, itu adalah darah dagingnya sendiri).

Sangga naeo mpadondo, niwalanggero anana, da’a wou nadota nembangu, padahal da’a anana. Aga ngana pailu.

(Pagi harinya, raksasa tidak menyadari kebenaran yang pahit. Ia pergi berjalan-jalan, meninggalkan “anaknya” yang tertidur—yang sesungguhnya adalah anak yatim piatu).

Ngana etu madota mompelea malai nggari setu. Nipoviana saongu akala. Ia nompasiromu kutu sambanga, toila saongu bobo, pade nanggalivo nalai.

(Anak itu melarikan diri, membawa bekal seadanya: kutu dan kapur. Dua benda remeh, yang di tangan orang cerdik berubah menjadi senjata. Kutu dihamburkan untuk mengalihkan perhatian, kapur dipecahkan menjadi kabut yang membutakan pandangan).

Etumo kolombio neraga. Nikamburakana kutu. Nalera nantirunaka kutu etu kolombio, ngana etu nompasimbuku nongova.

(Namun raksasa tetap mengejar. Maka dihambur–hamburkannya kutu-kutu. Raksasa asyik memungut kutu itu, sementara anak itu berusaha melarikan diri).

Akhir kekerasan oleh tipu daya yang adil

Tapi naupa ia nongova, sampenjani hamunji voumo kolombio. Niposona bobo ntoila, etu najadi kulimo nanggalendu mata kolombio sampe narata ri sou Barampongu.

(Meski dia lari, raksasa sudah hampir menjangkaunya. Dipecahnya tempat kapur, sehingga menjadi awan yang menghalangi mata raksasa. Pelarian itu berujung di rumah Barampongu).

Narata ri setu, nipekutanana, “Nikitamu ngana pailu panea? (Apakah kamu melihat anak tadi?)

Niuli Barampongu, “Da’a”. Sampanjani nikitana ngisi Barampongu nabelo. “Nitonggo nu baliu balanda”, pesana Barampongu.

(Di sana, raksasa bertanya, mencari mangsanya yang lolos. Barampongu menjawab singkat, tanpa membuka rahasia. Ketika raksasa terpikat oleh gigi Barampongu yang rapi, kebohongan kecil pun dirangkai.

“Gigi saya dipotong kapak Belanda,” kata Barampongu).

“Ane wa’a, koto kaku wou ngisiku, apa ngisiku nabete bo nabemba,” panguli kolombio (Kalau begitu, potongkan juga gigi saya, karena gigi saya besar dan lebar.

“Ane aga etu da’a nakaja, paturumo ri bunggu nu kayu. Aku mombakotona”, panguli Barampongu (Kalau hanya itu, gampang, berbaringlah di atas balok kayu, nanti saya potong).

Nompamulamo ia nosampu baliu sampe natada mpuu. sangga katadana nipamulanamo, daasi nikoto mpakabelo, aga nitonga ante baliu, sambela ri ngisi, sambela ri tambolo, sampe kolombio etu namate.

(Dia mulai mengasah kapak sampai tajam sekali. Ayunan tidak lagi sekadar mengenai gigi, tetapi leher. Raksasa itu pun tewas).

Bukan oleh tenaga yang lebih besar, melainkan oleh kecerdikan dan keberanian orang-orang yang selama ini dianggap lemah.

Dongeng lokal Kolombio bo Ngana Pailu, pesan universal

Kolombio bo Ngana Pailu mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa nurani akan runtuh oleh kecerdikan dan solidaritas. Anak yatim piatu dalam kisah ini tidak digambarkan sebagai pahlawan berotot, melainkan manusia biasa yang bertahan dengan akal dan keberanian.

Dongeng ini juga menyentuh isu yang tetap relevan hingga hari ini: tentang eksploitasi, ketimpangan kuasa, dan bagaimana yang kecil sering kali harus lebih cerdas untuk bertahan hidup.

Di tengah arus cerita modern yang serba instan, kisah rakyat seperti ini mengingatkan bahwa kearifan lokal menyimpan etika hidup yang tidak lekang oleh waktu. Ia mengajarkan empati, kewaspadaan, dan keyakinan bahwa kejahatan—sekuat apa pun—tidak akan menang selamanya.***

Pos terkait