The Last of Earth: 5 Lapisan Menggugah dari ‘Forbidden Kingdom’ Tibet

Lanskap epik Pegunungan Himalaya menjadi latar utama dalam *The Last of Earth*, menggambarkan medan ekstrem dan sunyi yang membingkai ambisi, eksplorasi, dan pergulatan sejarah di Tibet abad ke-19.
Pegunungan Himalaya dengan cakrawala luas sebagai latar novel The Last of Earth tentang eksplorasi dan sejarah kolonial di Tibet.(Foto: donwogdo/Getty Images via the Guardian)

The Last of Earth dan Peta yang Tak Pernah Netral

Warta KailiThe Last of Earth adalah langkah berani kedua dari Deepa Anappara setelah debutnya yang memikat, Djinn Patrol on the Purple Line. Jika novel pertamanya bergerak di lorong-lorong kumuh India dengan nada satir dan penuh energi, karya terbarunya ini membawa pembaca mendaki pegunungan Tibet abad ke-19—wilayah yang kala itu dijuluki “Forbidden Kingdom”.

Diterbitkan oleh Oneworld Publications, novel ini bukan sekadar kisah petualangan. Ia adalah renungan mendalam tentang kolonialisme, hasrat menaklukkan, dan kefanaan manusia. Dalam sekitar empat ratus halaman yang padat riset, Anappara menata ulang sejarah menjadi sesuatu yang hidup, berdenyut, dan sering kali menyakitkan.

Sejak awal, pembaca langsung dihadapkan pada satu gagasan kuat: peta tidak pernah netral. Garis-garis yang ditarik di atas kertas adalah perpanjangan dari ambisi, kekuasaan, dan keinginan untuk memiliki.

1. Tibet sebagai Ruang Sunyi yang Diperebutkan

Pada pertengahan abad ke-19, Tibet tertutup bagi imperialis Eropa. Namun, seperti digambarkan dalam novel ini, tidak ada pintu yang benar-benar tertutup bagi mereka yang merasa berhak atas dunia.

Pemerintah kolonial Inggris melatih, membujuk, bahkan menyuap orang-orang India untuk menyusup dan melakukan survei. Mereka juga menyamar, mencoba menembus Lhasa demi ambisi kartografi. Tibet menjadi ruang sunyi yang diperebutkan—bukan hanya secara geografis, tetapi juga simbolis.

Anappara tidak menggambarkan lanskap semata sebagai latar. Pegunungan, badai salju, macan tutul, dan sungai yang meliuk-liuk hadir sebagai kekuatan yang nyaris sakral. Alam bukan sekadar rintangan; ia adalah makhluk hidup yang tak bisa sepenuhnya ditundukkan.

2. Dua Tokoh, Dua Ambisi, Satu Pertemuan

Novel ini bergerak melalui dua sudut pandang utama.

Bacaan Lainnya

Balram, seorang guru sekaligus surveyor-spy India, ditugaskan menjadi pemandu bagi seorang kapten Inggris yang menyamar sebagai biksu. Sang kapten berambisi menjadi orang pertama yang memetakan alur Sungai Tsangpo hingga ke laut.

Di sisi lain, Katherine—perempuan berdarah campuran India—ingin menjadi perempuan Eropa pertama yang mencapai Lhasa dan melihat Potala Palace. Ia ditolak oleh Royal Geographical Society karena keanggotaannya eksklusif untuk laki-laki. Ambisinya lahir dari penolakan dan duka atas kematian sang saudari, Ethel.

Keduanya memulai perjalanan berbahaya di “negeri asing yang medan tanahnya berubah setiap beberapa mil”. Pada ketinggian delapan belas ribu kaki di atas permukaan laut, mereka merasa lebih dekat kepada para dewa daripada manusia. Namun kedekatan itu tidak membawa berkah—hanya beban.

3. Kolonialisme sebagai Luka Kolektif

Salah satu kekuatan The Last of Earth adalah keberaniannya menggali sisi gelap eksplorasi kolonial. Ambisi ilmiah dan keinginan mencatat sejarah sering dibayar dengan nyawa orang-orang yang tak pernah disebut namanya.

Balram berkali-kali bertanya dalam hati: berapa banyak pria pribumi yang tewas saat melakukan pengukuran untuk Great Trigonometrical Survey? Tak ada buku, tak ada peta yang mencatat mereka.

Kolonialisme digambarkan bukan hanya sebagai sistem politik, melainkan sebagai pola dunia yang timpang: ketika orang kulit putih memiliki keinginan, orang kulit cokelat menyerahkan hidupnya. Narasi ini tidak disampaikan dengan kemarahan berlebihan, tetapi dengan kesadaran getir yang justru terasa lebih menghantam.

Balram dihantui suara sahabatnya, Gyan, yang dikabarkan dipenjara di Tibet. Ia juga mendengar gema suara istri dan anak-anaknya. Sementara itu, Katherine terus dibayangi kematian Ethel. Ambisi mereka ternyata rapuh, selalu disusupi rasa bersalah dan kehilangan.

4. Peta, Kebenaran, dan Ilusi

Anappara membangun kisah ini dengan struktur yang tidak sepenuhnya lurus. Ada jeda, pengulangan, dan penyimpangan arah—seperti perjalanan itu sendiri. Dalam skala dan arsitekturnya, novel ini terasa megah dan reflektif.

Salah satu kalimat paling menggugah datang dari Balram: garis-garis yang ditarik sang kapten di atas kertas tampak seperti coretan anak kecil di lumpur. Jika bumi mengangkat bahunya, gunung bisa terbelah, sungai meluap, kota dan ladang lenyap. Peta menjadi tak berarti.

Di sini, Anappara mengingatkan bahwa sejarah pun demikian. Ia bukan fakta beku. Ia bisa melenceng, diselewengkan, atau diterangi ulang dari sudut pandang berbeda.

5. Sejarah sebagai Makhluk Hidup

Menjelang akhir, Balram menyadari bahwa sungai bukanlah spiral biru di atas peta. Ia makhluk hidup yang terus memperbarui diri, mengosongkan dan membentuk ulang dirinya setiap beberapa bulan.

Begitu pula sejarah.

Dengan The Last of Earth, Anappara menunjukkan bahwa masa lalu bukan ruang mati. Ia bisa ditafsirkan ulang melalui cahaya novelis. Dalam tangan yang peka, sejarah menjadi lebih manusiawi—lengkap dengan kesalahan, kesombongan, dan kerinduan.

Refleksi Akhir

The Last of Earth bukan bacaan ringan. Ia padat, penuh detail, dan memerlukan kesabaran. Namun bagi pembaca yang bersedia mengikuti langkahnya, novel ini menawarkan pengalaman yang mendalam.

Ini adalah kisah tentang ambisi yang menanjak bersama ketinggian pegunungan, tentang manusia yang ingin meninggalkan jejak, dan tentang alam yang selalu lebih besar dari rencana siapa pun. Di balik petualangan dan intrik, tersimpan pertanyaan sunyi: apa arti menaklukkan dunia, jika pada akhirnya kita semua fana?

Dalam keheningan Tibet, Anappara menulis dengan empati. Ia tidak sekadar membongkar sejarah kolonial, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap peta menyimpan cerita yang belum selesai.***

Pos terkait