Warta Kaili — Bagi Nita Ambani, berpakaian bukan sekadar soal penampilan. Ia adalah bahasa. Bahasa tentang kepemimpinan, ketenangan, dan keyakinan diri.
Di setiap kesempatan penting, Ketua Pendiri Reliance Foundation itu hampir selalu hadir dengan pilihan busana yang tak hanya tepat, tetapi juga berbicara lebih jauh tentang siapa dirinya dan peran yang ia emban.
Hal itu kembali terlihat saat Nita Ambani menghadiri Sidang Komite Olimpiade Internasional (IOC) ke-145, menjelang Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026.
Di forum global yang sarat keputusan strategis tersebut, ia tampil dengan gaya power dressing yang anggun—tanpa berisik, tanpa berlebihan, namun meninggalkan kesan mendalam.
Sebagai anggota individu IOC pertama dan satu-satunya dari India, kehadiran Nita Ambani bukan hanya simbol representasi, melainkan juga pengaruh. Dan seperti biasa, caranya berbusana seolah menjadi perpanjangan dari sikap itu: tegas, terukur, dan penuh martabat.
Mantel Hitam Bertekstur: Kehangatan dalam Kewibawaan
Dalam salah satu penampilannya, Nita Ambani memilih mantel hitam berbahan faux fur dengan tekstur mewah yang langsung mencuri perhatian. Mantel tersebut jatuh dengan siluet rileks, memberi kesan hangat dan membungkus, seolah menegaskan ketenangan di tengah agenda besar yang tengah dibahas.
Ia memadukan mantel itu dengan celana bercorak halus yang nyaris tak mencolok, namun justru memperkuat kesan rapi dan matang. Sepasang sepatu bot hitam berhak tinggi melengkapi keseluruhan tampilan—sederhana, fungsional, dan tetap elegan.
Tak ada warna mencolok, tak ada potongan ekstrem. Namun justru di situlah kekuatannya. Busana ini mencerminkan filosofi quiet luxury: kemewahan yang tidak perlu berteriak untuk diakui.
Setelan Biru Dongker: Struktur, Fokus, dan Kepemimpinan
Pada kesempatan lain, saat berfoto bersama Kirsty Coventry, Presiden IOC, Nita Ambani tampil dengan gaya yang lebih terstruktur. Ia mengenakan jaket tweed biru dongker model double-breasted, dipadukan dengan celana ramping senada. Keseluruhan tampilan tampil monokromatik, berpusat pada nuansa biru gelap yang dalam dan berwibawa.
Jaket tersebut berasal dari koleksi Spring–Summer 2026 Pre-Collection Chanel. Berdasarkan laman resmi Chanel, harga busana itu tercatat ₹738.800, atau setara sekitar Rp140 juta. Namun alih-alih memamerkan nilai material, pilihan ini justru terasa sebagai investasi simbolik: kualitas, ketahanan, dan konsistensi—nilai yang juga dibutuhkan dalam kepemimpinan olahraga global.
Potongan jaket yang tegas namun tidak kaku memberi pesan jelas: profesionalisme yang tetap manusiawi.
Perhiasan sebagai Tanda Tangan Personal
Dalam dua penampilannya itu, Nita Ambani tak pernah meninggalkan ciri khasnya: perhiasan berupa bros yang disematkan dengan penuh perhitungan. Tidak berlebihan, tidak mendominasi, tetapi cukup untuk memberi sentuhan personal yang hangat.
Bros-bros tersebut seolah menjadi pengingat bahwa di balik struktur formal dan tanggung jawab besar, ada sisi personal yang tetap dijaga. Sebuah detail kecil yang justru membuat keseluruhan tampilan terasa hidup dan membumi.
Lebih dari Mode, Ini tentang Peran
Apa yang dikenakan Nita Ambani di Sidang IOC ke-145 bukan sekadar soal tren atau label mewah. Ia adalah refleksi dari perannya di panggung internasional.
Sejak pertama kali terpilih sebagai anggota individu IOC pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Nita Ambani telah mencatat sejarah sebagai perempuan India pertama yang duduk di lembaga olahraga tertinggi dunia itu.
Ia kemudian terpilih kembali dalam Sidang IOC ke-142 di Paris, menegaskan kepercayaan komunitas global terhadap kontribusinya. Tak hanya itu, Nita Ambani juga memainkan peran penting dalam keberhasilan India menjadi tuan rumah Sidang IOC di Mumbai, yang pertama kalinya digelar di negara tersebut setelah lebih dari 40 tahun.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa kehadirannya bukan simbolis. Ia aktif, terlibat, dan berpengaruh—baik dalam diplomasi olahraga maupun dalam penguatan peran Asia Selatan di arena Olimpiade.
Elegansi yang Membumi
Di tengah dunia mode yang kerap mengejar sensasi, gaya Nita Ambani justru terasa menenangkan. Ia tidak mencoba menjadi pusat perhatian, tetapi tetap tak mungkin diabaikan. Busananya berbicara pelan, namun jelas. Sikap yang sama ia bawa dalam perannya di IOC: bekerja dalam diam, memberi dampak nyata.
Menjelang Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026, penampilan Nita Ambani di Sidang IOC ke-145 seolah mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus lantang. Kadang, ia hadir dalam bentuk ketenangan, konsistensi, dan pilihan yang tepat pada waktunya.
Dan di tangan Nita Ambani, power dressing bukan sekadar soal kuasa—melainkan tentang kepercayaan diri yang matang dan elegansi yang manusiawi.***






