LeBron James Gagal All-NBA, Rekor 21 Musim Terhenti

LeBron James, bintang Los Angeles Lakers, dipastikan melewatkan daftar All-NBA musim NBA 2025–2026 akibat cedera dan tidak mencapai ambang batas 65 pertandingan
LeBron James gagal memperpanjang rekor 21 musim beruntun masuk All-NBA setelah tak memenuhi ambang batas 65 pertandingan NBA 2025–2026. (Instagram/@kingjames)

Warta KailiLeBron James dipastikan gagal memperpanjang rekor masuk daftar All-NBA setelah tak mampu memenuhi ambang batas 65 pertandingan pada musim NBA 2025–2026. Kepastian itu datang di tengah absennya sang megabintang saat Los Angeles Lakers menjamu San Antonio Spurs di Crypto.com Arena, Selasa (10/2/2026) waktu setempat.

LeBron James tidak tampil karena radang sendi di kaki kirinya. Tanpa kehadirannya, Lakers harus menyerah 108-136 dari Spurs. Kekalahan itu terasa lebih dari sekadar hasil pertandingan. Ia menjadi simbol berakhirnya satu rangkaian sejarah panjang yang selama ini melekat pada nama LeBron.

Musim ini, James telah melewatkan 18 pertandingan. Dengan jumlah itu, ia otomatis tak mungkin mencapai ambang minimal 65 laga yang menjadi syarat kelayakan untuk penghargaan pascamusim, termasuk All-NBA. Aturan tersebut membuat rekor 21 musim beruntun LeBron masuk tim All-NBA resmi terhenti—sebuah pencapaian yang selama ini tak tertandingi dalam sejarah liga.

Bacaan Lainnya

Pada usia 41 tahun, LeBron sebenarnya masih tampil produktif ketika berada di lapangan. Namun, regulasi liga tidak hanya mempertimbangkan statistik dan kontribusi, melainkan juga ketersediaan bermain sepanjang musim reguler.

Aturan 65 Pertandingan dan Dampaknya

Aturan ambang batas 65 pertandingan mulai diterapkan sejak musim 2023–2024. Kebijakan ini dibuat untuk menegaskan pentingnya konsistensi dan partisipasi pemain dalam kompetisi reguler. Liga ingin memastikan bahwa penghargaan individu diberikan kepada mereka yang tidak hanya tampil impresif, tetapi juga hadir secara berkelanjutan.

Dalam praktiknya, aturan tersebut mengubah lanskap penilaian. Pemilih penghargaan kini tak bisa sekadar menimbang rata-rata poin, assist, atau rebound. Mereka juga harus melihat jumlah pertandingan yang dimainkan.

Pelatih Lakers, JJ Redick, menilai ambang batas itu seharusnya menjadi panduan, bukan aturan kaku yang menutup ruang pertimbangan lain.

“Saya tahu pada tahun pertama saya memberikan suara, ada banyak pemain yang berada di kisaran 54 hingga 56 pertandingan,” ujar Redick, mengingat pengalamannya sebagai mantan pemilih penghargaan ketika masih bekerja di media, seperti dikutip ESPN.

Menurut Redick, konteks musim, tingkat cedera, serta dampak seorang pemain terhadap tim tetap perlu diperhitungkan secara menyeluruh.

Di sisi lain, Pelatih Spurs Mitch Johnson memahami semangat aturan tersebut, tetapi juga mengakui bahwa cedera adalah bagian tak terpisahkan dari musim yang panjang dan padat.

“Mengenai detail apakah 65 laga ialah jumlah yang tepat dan apakah seseorang tidak memenuhi syarat untuk penghargaan tertentu, jujur saja saya belum terlalu memikirkannya. Saya rasa ini jelas menyebalkan bagi para pemain yang memiliki tahun yang sangat hebat,” kata Johnson.

Pernyataan itu seolah menggambarkan situasi LeBron musim ini—masih kompetitif, namun terhalang kondisi fisik.

Malam Berat bagi Lakers

Absennya LeBron James bukan satu-satunya kabar buruk bagi Lakers. Luka Doncic juga menepi karena cedera hamstring kiri. Austin Reaves masih menjalani pemulihan cedera betis kiri, sementara Marcus Smart mengalami nyeri pergelangan kaki kanan.

Tanpa sejumlah pemain inti, Lakers kesulitan mengimbangi agresivitas Spurs. Skor akhir 136-108 mencerminkan betapa timpangnya pertandingan tersebut.

Namun, sorotan utama tetap tertuju pada LeBron. Selama lebih dari dua dekade, namanya hampir selalu hadir dalam daftar elit All-NBA. Ia menjadi standar konsistensi, ketahanan, dan performa puncak lintas generasi.

Kini, untuk pertama kalinya dalam 21 musim, daftar itu akan tersusun tanpa namanya.

Lebih dari Sekadar Statistik

Bagi sebagian penggemar, kegagalan ini mungkin hanya angka. Tetapi bagi LeBron James, All-NBA adalah cermin perjalanan panjangnya di liga. Sejak musim rookie hingga memasuki usia kepala empat, ia terus membuktikan diri sebagai pemain yang mampu bersaing di level tertinggi.

Rekor 21 musim beruntun masuk All-NBA bukan sekadar prestasi individu. Itu adalah narasi tentang disiplin, dedikasi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia melewati era berbeda, pelatih berbeda, rekan setim berbeda—namun tetap relevan.

Cedera dan batasan fisik akhirnya menjadi pengingat bahwa waktu adalah lawan yang tak bisa ditaklukkan selamanya. Bahkan untuk pemain sekelas LeBron James.

Namun, berakhirnya satu rekor bukan berarti berakhirnya pengaruh. Di ruang ganti, di tribun penonton, dan di antara generasi pemain muda, warisan LeBron tetap hidup. Ia telah mengubah standar ekspektasi terhadap umur panjang seorang atlet profesional.

Musim ini mungkin tak akan mencatatkan namanya dalam daftar All-NBA. Tetapi sejarah sudah mencatat 21 musim sebelumnya sebagai tonggak yang mungkin sulit disamai siapa pun.

Di Crypto.com Arena malam itu, kekalahan Lakers terasa berat. Namun yang lebih terasa adalah sunyi yang menandai akhir sebuah bab luar biasa dalam perjalanan karier LeBron James.

Dan seperti biasa dalam kisah olahraga, setiap akhir membuka ruang untuk bab berikutnya—entah itu kebangkitan, perpisahan, atau sekadar momen untuk merenung tentang betapa panjang dan gemilangnya perjalanan yang telah dilalui.***

Pos terkait