Eca Aura Klarifikasi Isu “Tabung Pink”: Tegaskan Tak Pernah Memiliki atau Menggunakan

Eca Aura, seleb TikTok, gamer, dan host asal Indonesia. (Foto: tangkapan layar Instagram @eca_aura)

Warta Kaili — Selebragram Elsa Japasal, yang lebih dikenal publik dengan nama Eca Aura, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan isu kepemilikan “tabung pink” yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial.

Isu tersebut berkembang setelah beredarnya potongan video lama yang memicu spekulasi netizen dan mengaitkan Eca dengan dugaan penggunaan tabung gas nitrous oxide (N₂O), atau yang populer disebut whip pink.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @elsaajapasal, Eca menyampaikan klarifikasi secara terbuka dan tegas. Ia menekankan bahwa dirinya tidak pernah memiliki, menggunakan, ataupun melakukan aktivitas apa pun yang berkaitan dengan tabung pink sebagaimana yang dituduhkan.

“Di sini aku mau menyampaikan dengan jelas dan jujur, aku enggak pernah memiliki, menggunakan, atau melakukan aktivitas apa pun terkait dengan tabung pink,” ujar Eca, dikutip Senin (9/2/2026).

Klarifikasi ini disampaikan Eca setelah isu tersebut berkembang luas dan memunculkan berbagai asumsi negatif di ruang publik digital. Ia mengaku cukup terkejut melihat bagaimana sebuah potongan video dapat ditafsirkan secara jauh dari konteks aslinya.

Isu ini bermula dari unggahan singkat yang menampilkan proses perpindahan rumah Eca. Dalam salah satu sudut ruangan pada video tersebut, terlihat sebuah benda kecil berwarna merah muda. Tanpa informasi yang utuh, sebagian netizen menduga benda itu sebagai tabung gas nitrous oxide yang kerap disalahgunakan untuk tujuan rekreasional.

Eca menuturkan bahwa video yang dipermasalahkan itu sebenarnya direkam sekitar dua bulan sebelumnya. Video tersebut, menurutnya, sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung atau menunjukkan hal-hal di luar momen pribadinya saat berbagi cerita pindah rumah.

Bacaan Lainnya

“Maaf aku baru bisa bicara sekarang, karena jujur kemarin aku cukup kaget dengan arah pembicaraan yang berkembang. Awalnya aku cuma nge-share soal pindahan rumah, terus muncul asumsi lain yang di luar dugaan,” tuturnya.

Ia menyadari bahwa media sosial memiliki daya sebar yang sangat cepat, dan potongan visual tanpa penjelasan bisa dengan mudah disalahartikan. Menurut Eca, konteks yang hilang dalam potongan video itulah yang kemudian memicu spekulasi liar.

“Video itu diambil sekitar dua bulan lalu tanpa konteks yang utuh dan kemudian disalahartikan. Aku paham kenapa bisa muncul banyak spekulasi, karena sebuah potongan momen itu bisa memiliki arti yang berbeda ketika sudah di-share ke media sosial,” ujarnya dengan nada reflektif.

Alih-alih defensif, Eca memilih menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi diri. Ia mengakui bahwa sebagai figur publik, setiap konten yang dibagikan membawa konsekuensi yang lebih luas, termasuk risiko disalahpahami oleh publik.

“Kejadian ini menjadi pelajaran yang berharga banget buat aku untuk ke depannya lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dengan apa pun yang aku bagikan,” katanya.

Di akhir klarifikasinya, Eca menyampaikan apresiasi kepada para penggemar dan pihak-pihak yang tetap memberikan dukungan. Ia juga berterima kasih kepada mereka yang memilih mendengarkan penjelasannya secara utuh sebelum menarik kesimpulan.

Sikap terbuka Eca ini mendapat respons positif dari banyak warganet. Sebagian besar menilai klarifikasi tersebut disampaikan dengan jujur dan dewasa, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya empati serta kehati-hatian dalam menyikapi informasi di media sosial.


Tabung Pink “Whip Pink”: Apa Itu dan Seberapa Berbahaya?

Tabung kecil berwarna merah muda yang ramai diperbincangkan tersebut umumnya dikenal sebagai whip cream charger. Tabung ini berisi gas dinitrogen oksida (N₂O) yang secara legal digunakan dalam dunia kuliner, khususnya untuk menghasilkan krim kocok. Dalam dunia medis, gas ini juga digunakan secara terbatas sebagai anestesi ringan.

Namun, persoalan muncul ketika gas N₂O disalahgunakan di luar fungsi aslinya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menjelaskan bahwa penyalahgunaan gas ini, terutama dengan cara dihirup langsung untuk mendapatkan efek euforia, memiliki risiko kesehatan yang serius. Gas N₂O kerap dijuluki sebagai “gas tertawa” karena dapat menimbulkan sensasi rileks, pusing, hingga euforia singkat.

BPOM turut mengingatkan bahwa penggunaan gas N₂O secara tidak semestinya dapat menimbulkan berbagai dampak berbahaya, mulai dari gangguan pernapasan, ketergantungan psikologis, hingga efek sistemik pada tubuh. Inhalasi gas ini dapat menggantikan oksigen di paru-paru, sehingga mengurangi pasokan oksigen ke jaringan tubuh.

Jika terjadi berulang, kondisi tersebut berpotensi memicu hipoksia serius dan kerusakan organ. Karena itu, para ahli kesehatan menegaskan bahwa gas N₂O bukanlah zat yang aman untuk konsumsi rekreasional.

Kolaborasi pengawasan antara BPOM, BNN, Kepolisian, dan Kementerian Kesehatan pun terus diperkuat untuk menekan peredaran dan penyalahgunaan gas ini di masyarakat.***

Pos terkait