Valentine Day di Era Medsos: Sekadar Konten, Bukan Koneksi

Perayaan Valentine kian dipersepsi sebagai ajang pamer di media sosial. Bagi banyak orang, cinta terasa lebih diproduksi sebagai konten ketimbang dihayati sebagai koneksi yang tulus. (Foto: Shutterstock/Dragon Images)

Warta Kaili — Valentine’s Week kembali hadir pada Februari 2026. Tujuh hari menjelang 14 Februari diisi dengan penanda romantis: Rose Day, Propose Day, Chocolate Day, hingga Valentine’s Day.

Selama bertahun-tahun, pekan ini identik dengan cinta romantis, pasangan, hadiah, dan gestur besar yang dianggap wajib. Namun kini, maknanya tak lagi sesederhana itu.

Di tengah perubahan cara orang memaknai hubungan, Valentine’s Week justru memunculkan reaksi yang tak terduga. Bukan hanya para lajang, tetapi juga pasangan—baik yang baru menjalin hubungan maupun yang sudah lama bersama—mulai merasa jengah.

Bukan karena benci cinta, melainkan karena cinta yang terasa dipaksakan, dipamerkan, dan diukur lewat standar media sosial.

Di era digital, perayaan Valentine semakin sering tampak sebagai konten, bukan koneksi. Unggahan bunga, cokelat, makan malam romantis, hingga kejutan beruntun selama tujuh hari kerap terlihat seragam.

Tak sedikit yang mengaku, semuanya terasa lebih “untuk Instagram” ketimbang untuk hubungan itu sendiri. Dari sinilah muncul satu kesepakatan lintas status: Valentine’s Week bukan anti-love, hanya terasa cringe.

Lajang dan Kehilangan Makna Emosional

Siska (24), seorang pekerja muda yang masih lajang, menilai Valentine’s Week sudah kehilangan kedalaman emosionalnya.

Bacaan Lainnya

“Sebagai orang single, yang bikin terasa canggung itu karena semua seperti ritual kosong. Rasanya tidak lagi bermakna,” ujarnya.

Ia menilai simbol-simbol romantis tak lagi punya bobot yang sama. “Aku bisa beli bunga untuk diriku sendiri. Dan jujur saja, melihat dinamika hubungan sekarang, bunga tidak selalu berarti komitmen,” katanya. Menurut Siska, gestur besar sering kali tak sejalan dengan keseriusan relasi.

“Orang bisa merayakan tujuh hari penuh Valentine, tapi tetap menyebut hubungannya ‘situationship’ atau ‘cuma santai’. Itu menyedihkan,” ujarnya. Ia lebih memilih hadiah kecil yang dipikirkan dengan sungguh-sungguh dibanding sesuatu yang diberikan hanya karena kalender menuntutnya.

Baginya, cinta yang dipaksa tampil terasa hampa. “Kenapa harus menunggu hari tertentu untuk menunjukkan perhatian? Aku melihat banyak pasangan seperti ‘memaksa’ merayakan semuanya demi unggahan. Itu bukan kasih sayang, itu mengejar estetika.”

Pasangan Juga Merasa Tertekan

Pandangan serupa datang dari mereka yang sedang menjalin hubungan. Wawan (27), yang berada dalam relasi sehat, mengakui Valentine’s Day masih menyenangkan—namun sebatas itu.

“Bertukar cokelat, bunga, atau menghabiskan waktu bersama itu manis. Tapi sekarang rasanya lebih banyak soal pamer daripada cinta,” katanya.

Ia menyoroti tekanan finansial dan emosional yang muncul. “Tidak semua orang harus membeli cokelat termahal hanya karena Chocolate Day. Bulan baru mulai, kebutuhan banyak. Mendapat bunga di Rose Day seolah dianggap lebih penting daripada bunga yang datang tiba-tiba di hari biasa.”

Menurut Wawan, masalahnya bukan pada romantisme, melainkan pada ekspektasi. “Internet seakan mengatur bagaimana Valentine harus dirayakan. Kencan harus mewah, hadiah harus fotogenik. Tekanan itu tidak perlu dan justru melelahkan.”

Cinta Tak Bisa Dijadwalkan

Bagi mereka yang telah lama bersama, Valentine’s Week bahkan terasa makin tak relevan. Fhany (30), yang telah menjalani hubungan lebih dari enam tahun, menyebut pekan Valentine sebagai sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan.

“Cinta tidak hidup dalam tema mingguan,” katanya. “Kalau memang nyata, ia hadir dalam perhatian sehari-hari—dalam kehangatan, kebiasaan kecil, dan kebersamaan yang konsisten.”

Ia menilai media sosial telah menggeser keintiman menjadi pertunjukan. “Ada tekanan untuk merayakan cinta dengan cara tertentu. Akhirnya, yang personal jadi terpinggirkan karena orang sibuk menyesuaikan diri dengan standar luar.”

Ironisnya, menurut Fhany, upaya untuk terlihat romantis justru mengurangi keaslian hubungan. “Ketika cinta harus dipamerkan, ia kehilangan maknanya.”

Lajang Bukan Pahit, Hanya Lelah

Wafid (30), yang juga lajang, menegaskan ketidaknyamanannya bukan karena iri atau anti-cinta. “Aku tidak membenci pasangan atau perayaan cinta. Yang mengganggu adalah perubahan sikap yang tiba-tiba selama satu minggu,” katanya.

Ia melihat banyak relasi yang tampak “berubah karakter” saat Valentine’s Week tiba. “Semua jadi manis mendadak, lalu kembali biasa saja setelahnya. Rasanya seperti kewajiban sosial, bukan hubungan yang tulus.”

Bagi Wafid, sisi performatif inilah yang membuat romantisme terasa canggung. “Ketika semuanya tampak diatur dan seragam, sulit percaya bahwa itu nyata.”

Bukan Menolak Cinta, Tapi Menolak Paksaan

Akbar merangkum kegelisahan banyak orang dengan sederhana. “Tidak ada yang salah dengan merayakan cinta. Yang jadi masalah adalah ketika ada tuntutan tentang bagaimana cinta harus dirayakan,” ujarnya. “Cinta tidak satu bentuk. Rayakan dengan cara yang paling jujur bagi dirimu.”

Pada akhirnya, Valentine’s Week bukan sedang ditinggalkan, melainkan ditafsir ulang. Orang-orang—baik lajang maupun berpasangan—tidak menolak cinta. Mereka menolak romantisme yang serba skrip, tekanan media sosial, dan gestur yang lebih mengejar validasi daripada keintiman.

Mungkin, pelajaran terpenting dari Valentine tahun ini justru sederhana: cinta tidak membutuhkan filter agar terasa nyata. Ia cukup hadir, apa adanya, di hari biasa—tanpa harus menunggu tanggal merah di kalender.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *