Ukuran Penis Terbukti Berpengaruh: 2 Fakta Ilmiah Soal Daya Tarik Seksual Perempuan

ukuran penis dalam konteks studi ilmiah tentang daya tarik seksual perempuan
Ilustrasi penelitian ilmiah tentang ukuran penis dan daya tarik seksual perempuan. (Foto: Freepik)

Warta Kaili – Ukuran penis menjadi sorotan dalam sebuah studi ilmiah terbaru yang memantik perbincangan luas. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Biology itu menyimpulkan bahwa ukuran penis memiliki pengaruh terhadap daya tarik seksual perempuan.

Temuan ini tidak berdiri sendiri, melainkan memperkuat sejumlah penelitian sebelumnya yang menelusuri preferensi fisik dalam konteks evolusi manusia.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Upama Aich dari University of Western Australia. Dalam laporan ilmiahnya, ia menegaskan bahwa hasil riset mereka mengonfirmasi temuan terdahulu. Perempuan, dalam konteks penilaian visual, cenderung menganggap penis yang lebih besar sebagai lebih menarik.

Pernyataan ini dikutip pula oleh sejumlah media internasional, termasuk New York Post, yang menyoroti aspek evolusioner dari temuan tersebut.

Ukuran penis sejak lama menjadi bahan diskusi, baik dalam ruang privat maupun publik. Namun studi ini mencoba menempatkannya dalam kerangka ilmiah yang terukur. Para peneliti berangkat dari pertanyaan mendasar: mengapa penis manusia, jika dibandingkan dengan ukuran tubuh, relatif lebih panjang dan tebal dibandingkan kera besar lainnya? .

Secara biologis, fungsi utama organ tersebut adalah untuk menyalurkan sperma. Namun ukuran yang tidak biasa itu memunculkan dugaan adanya faktor seleksi lain di luar fungsi reproduksi dasar.

Dalam riset ini, lebih dari 600 pria dan sekitar 200 perempuan dilibatkan sebagai partisipan. Mereka diminta menilai sosok pria hasil visualisasi komputer yang dimodifikasi dalam beberapa aspek, yakni tinggi badan, bentuk tubuh, dan ukuran penis.

Bacaan Lainnya

Perempuan diminta menilai tingkat daya tarik seksual, sementara pria diminta menilai seberapa mengancam sosok tersebut, baik dalam konteks kemampuan bertarung maupun sebagai pesaing seksual.

Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Perempuan cenderung lebih tertarik pada pria yang lebih tinggi, memiliki tubuh bagian atas berbentuk V, serta penis berukuran lebih besar. Namun temuan ini juga menunjukkan adanya batas.

Setelah mencapai ukuran tertentu, penambahan tinggi badan atau ukuran penis tidak lagi meningkatkan daya tarik secara signifikan. Dengan kata lain, preferensi tersebut tidak bersifat tanpa batas.

Di sisi lain, peserta pria menilai sosok dengan penis lebih besar sebagai pesaing yang lebih kuat. Para peneliti menafsirkan hal ini sebagai sinyal kemampuan bertarung yang lebih tinggi sekaligus indikator kompetitor seksual yang serius.

Analogi yang digunakan dalam laporan studi menyamakan fungsi ini dengan tanduk pada rusa atau surai pada singa—ciri fisik yang berperan dalam persaingan antarjantan.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa ukuran penis kemungkinan berevolusi akibat dua tekanan utama: preferensi seksual perempuan dan persaingan antarpria. Namun, berdasarkan analisis data, pengaruh preferensi seksual perempuan dinilai lebih dominan.

Dalam laporan mereka disebutkan bahwa pengaruh ukuran penis terhadap daya tarik seksual empat hingga tujuh kali lebih kuat dibandingkan pengaruhnya sebagai sinyal kemampuan bertarung.

Michael D. Jennions, Profesor Emeritus Biologi Evolusi dari Australian National University dan salah satu penulis studi, menegaskan bahwa fungsi biologis bukan satu-satunya faktor penentu dalam evolusi bentuk tubuh manusia.

Ia menyatakan bahwa meskipun penis berfungsi utama untuk reproduksi, ukurannya yang relatif besar kemungkinan berkembang sebagai ornamen seksual untuk menarik perempuan. Persaingan dengan pria lain tetap berperan, tetapi bukan faktor utama.

Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan. Penilaian partisipan didasarkan pada visualisasi komputer yang menekankan faktor fisik semata. Aspek lain yang dalam kehidupan nyata sangat memengaruhi ketertarikan—seperti kepribadian, ekspresi wajah, suara, humor, hingga nilai-nilai personal—tidak dimasukkan dalam model penelitian. Dengan demikian, hasil studi ini tidak dapat disimpulkan sebagai satu-satunya penentu ketertarikan perempuan terhadap pria.

Peneliti juga mengingatkan bahwa standar maskulinitas dan persepsi daya tarik sangat dipengaruhi oleh budaya. Preferensi yang muncul dalam satu populasi tidak selalu identik dengan populasi lain. Nilai-nilai sosial, paparan media, serta norma budaya dapat membentuk cara seseorang memandang tubuh dan daya tarik seksual.

Temuan ini pada akhirnya membuka ruang refleksi yang lebih luas. Tubuh manusia, termasuk ukuran penis, tidak dapat dilepaskan dari konteks biologis sekaligus sosial.

Sains berusaha membaca pola, tetapi kehidupan nyata selalu lebih kompleks. Ketertarikan bukan hanya soal ukuran atau proporsi, melainkan perpaduan banyak faktor yang saling berkelindan.

Dengan pendekatan ilmiah yang hati-hati, studi ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana evolusi dan preferensi seksual bekerja dalam membentuk ciri fisik manusia.

Namun pesan pentingnya tetap sama: daya tarik adalah spektrum yang luas. Ia tidak berdiri pada satu variabel tunggal, melainkan pada kombinasi karakter, sikap, dan kualitas personal yang jauh melampaui sekadar ukuran fisik.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *