Warta Kaili – Laut Mediterania kembali menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan. Tragedi kapal migran terjadi di lepas pantai Libya, menewaskan atau menyebabkan hilangnya 53 orang yang berharap menemukan masa depan lebih aman di Eropa.
Peristiwa memilukan ini diumumkan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Senin (8/2), menambah daftar panjang korban dalam jalur migrasi paling mematikan di dunia.
Dari puluhan penumpang kapal kayu yang ringkih itu, hanya dua orang yang selamat. Keduanya adalah perempuan asal Nigeria. Mereka ditemukan dalam kondisi lemah dan trauma setelah operasi pencarian dan penyelamatan yang dilakukan otoritas Libya.
Kesaksian Penyintas: Kehilangan yang Tak Tergantikan
Di balik angka, ada duka yang tak terukur. Salah satu perempuan yang selamat kehilangan suaminya. Perempuan lainnya kehilangan dua bayi kecilnya—nyawa yang bahkan belum sempat mengenal dunia.
Kesaksian ini disampaikan IOM dalam pernyataan resminya, menggambarkan betapa tragedi kapal migran ini bukan sekadar peristiwa laut, melainkan luka mendalam bagi keluarga dan kemanusiaan.
Tim IOM memberikan perawatan medis darurat kepada kedua penyintas sesaat setelah mereka dibawa ke darat. Namun, bantuan medis tak pernah cukup untuk menghapus trauma kehilangan orang-orang tercinta di tengah laut gelap yang tak memberi ampun.
Tragedi Kapal Migran Terbalik Setelah Enam Jam Berlayar
Menurut penuturan para penyintas, kapal tersebut berangkat dari Al-Zawiya, Libya, sekitar pukul 23.00 pada 5 Februari. Kapal membawa migran dan pengungsi dari berbagai negara Afrika. Mereka berdesakan di atas kapal yang tidak layak laut, mempertaruhkan hidup demi harapan.
Sekitar enam jam setelah berlayar, kapal mulai kemasukan air. Dalam kondisi gelombang dan cuaca yang keras, kapal akhirnya terbalik di utara Zuwara. Malam yang seharusnya menjadi awal perjalanan menuju kehidupan baru berubah menjadi akhir bagi puluhan orang.
IOM menyatakan duka mendalam atas tragedi kapal migran ini, menyebutnya sebagai satu lagi insiden mematikan di jalur Mediterania Tengah—rute yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai kuburan terbuka bagi para pencari keselamatan.
Mediterania: Jalur Harapan yang Menjadi Kuburan
Bagi banyak migran Afrika, Mediterania bukan sekadar laut. Ia adalah batas antara putus asa dan harapan. Namun, kenyataannya, laut ini terus menelan korban. IOM mencatat, sejak awal tahun ini saja, ratusan orang dikhawatirkan telah tewas saat mencoba menyeberang, diperparah oleh kondisi cuaca ekstrem.
Dalam rentang waktu 2014 hingga akhir 2025, lebih dari 33.000 migran tercatat meninggal dunia atau hilang di Mediterania, berdasarkan data Missing Migrants Project milik IOM. Tahun lalu saja, jumlah korban mencapai 1.873 orang, dengan 1.342 di antaranya terjadi di rute Mediterania Tengah.
Angka-angka ini menegaskan bahwa tragedi kapal migran bukan insiden terisolasi, melainkan krisis kemanusiaan yang terus berulang.
Jaringan Penyelundupan Memanfaatkan Keputusasaan
IOM menyoroti peran jaringan penyelundupan dan perdagangan manusia yang terus mengeksploitasi migran. Jaringan ini meraup keuntungan besar dengan mengirim orang-orang putus asa menggunakan kapal rapuh dan penuh sesak, tanpa memperhitungkan keselamatan.
“Migran di sepanjang rute ini terpapar penyalahgunaan berat,” kata IOM. Dari pemerasan hingga kekerasan fisik, penderitaan sering kali sudah dimulai jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di kapal.
Tragedi kapal migran ini kembali memperlihatkan bagaimana keputusasaan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, sementara korban hanya ingin hidup lebih layak.
Seruan Kerja Sama Internasional
Menanggapi insiden tersebut, IOM menyerukan penguatan kerja sama internasional untuk memberantas jaringan penyelundupan manusia sekaligus membuka jalur migrasi yang aman dan legal. Tanpa alternatif yang manusiawi, migran akan terus memilih rute berbahaya.
Juru bicara Komisi Eropa menyatakan bahwa Uni Eropa berupaya mengatasi akar penyebab migrasi tidak teratur serta mendorong jalur migrasi yang aman, tertib, dan sah. Pernyataan itu menegaskan bahwa tragedi ini kembali menunjukkan urgensi kerja sama dengan mitra, termasuk Libya.
Namun, bagi keluarga korban, pernyataan dan kebijakan terasa datang terlambat.
Lebih dari Angka, Ini Tentang Kemanusiaan
Di tengah statistik dan pernyataan resmi, tragedi kapal migran ini mengingatkan dunia bahwa setiap korban adalah manusia—ayah, ibu, anak, dan bayi—dengan mimpi yang tak pernah sampai ke tujuan.
Laut Mediterania terus bergelombang, dan kapal-kapal migran kemungkinan akan tetap berlayar. Pertanyaannya bukan lagi apakah tragedi akan terjadi lagi, melainkan berapa banyak nyawa lagi yang harus hilang sebelum dunia benar-benar bertindak.
Tragedi ini seharusnya tidak hanya mengguncang dunia, tetapi juga nurani bersama.***


