QRIS Melonjak: 5 Fakta Ekspansi Nyata di Ruang Publik

Suasana kegiatan Funday di Kota Bogor dengan peserta bertransaksi menggunakan QRIS di stan UMKM
Funday di Kota Bogor menjadi salah satu pendorong lonjakan penggunaan QRIS dalam transaksi non-tunai di ruang publik.(Foto: Jatelindo)

Warta Kaili – QRIS kini bukan lagi sekadar kode kotak hitam-putih yang terpajang di meja kasir. Ia telah menjelma menjadi simbol perubahan cara masyarakat Indonesia bertransaksi. Di tengah meningkatnya tren pembayaran digital, implementasi QRIS terus meluas, termasuk dalam berbagai kegiatan publik dan olahraga yang melibatkan ribuan orang.

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS pada kuartal IV 2025 tumbuh sangat tinggi, mencapai 139,99 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menjadi penanda bahwa masyarakat semakin percaya dan terbiasa menggunakan sistem pembayaran non-tunai dalam aktivitas sehari-hari.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keuangan digital pada periode tersebut tetap kuat, ditopang oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Secara keseluruhan, volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,26 miliar transaksi atau tumbuh 39,21 persen (yoy) pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan ini juga didorong oleh perluasan akseptasi pembayaran digital di berbagai sektor.

Transaksi melalui aplikasi mobile banking dan internet pun masing-masing tumbuh 12,10 persen dan 15,10 persen (yoy). Data ini menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran bukan lagi tren sesaat, melainkan bagian dari perubahan perilaku masyarakat yang semakin mapan.

Dari Data ke Lapangan: QRIS Hadir di Funday Bogor

Lonjakan penggunaan QRIS tidak hanya terlihat di laporan statistik. Di lapangan, perubahan itu terasa nyata. Salah satunya tampak dalam kegiatan Funday yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor sebagai pembuka rangkaian Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026.

Sekitar 5.000 peserta memadati acara olahraga rekreasi tersebut. Mereka datang untuk berolahraga, bersosialisasi, dan menikmati suasana akhir pekan. Namun ada satu hal yang berbeda: transaksi di lokasi acara didorong untuk menggunakan QRIS.

Di tengah keramaian, para pelaku usaha mikro dan kecil membuka stan makanan, minuman, serta perlengkapan olahraga. Di atas meja mereka, terpajang kode QRIS yang siap dipindai. Tanpa perlu uang tunai, peserta cukup membuka aplikasi pembayaran di ponsel dan menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik.

Bacaan Lainnya

Momen ini menjadi gambaran bagaimana QRIS semakin menyatu dengan aktivitas publik. Pembayaran tidak lagi menghambat interaksi. Prosesnya cepat, praktis, dan minim risiko uang kembalian atau uang palsu.

Peran Jatelindo dalam Perluasan Implementasi QRIS

Dalam kegiatan tersebut, PT Jatelindo Perkasa Abadi (Jatelindo) hadir sebagai penyedia layanan pembayaran digital berbasis QRIS. Keterlibatan ini bukan sekadar dukungan teknis, tetapi bagian dari strategi memperluas implementasi QRIS di ruang publik.

Direktur Operasional Jatelindo, Nandan Sandaya, menjelaskan bahwa partisipasi dalam kegiatan masyarakat seperti ini mencerminkan meningkatnya adopsi QRIS di berbagai sektor, termasuk olahraga.

Menurutnya, kehadiran layanan QRIS merupakan bentuk dukungan konkret terhadap digitalisasi transaksi dalam kegiatan publik yang melibatkan partisipasi luas masyarakat. QRIS memudahkan peserta maupun pelaku usaha melakukan transaksi secara cepat, aman, dan praktis tanpa harus membawa uang tunai.

Bagi pelaku UMKM, kemudahan ini terasa signifikan. Mereka tidak perlu lagi menyiapkan uang kecil untuk kembalian atau khawatir kehilangan uang tunai di tengah keramaian. Semua transaksi tercatat secara otomatis dan dapat dipantau.

Transparansi dan Pemantauan Real-Time

Tidak berhenti pada penyediaan kode pembayaran, Jatelindo juga menghadirkan dashboard pemantauan transaksi. Melalui sistem ini, pelaku usaha dapat memonitor aktivitas pembayaran secara real time.

Fitur tersebut memberi rasa aman sekaligus membantu pengelolaan usaha yang lebih tertata. Setiap transaksi tercatat, sehingga memudahkan rekap penjualan dan evaluasi usaha setelah acara selesai.

Kolaborasi antara Jatelindo dan Dispora Kota Bogor juga diarahkan untuk memperkuat literasi pembayaran digital. Edukasi dan sosialisasi direncanakan agar penggunaan QRIS tidak hanya bersifat sesaat saat acara, tetapi menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.

Langkah ini sejalan dengan upaya memperluas inklusi keuangan. Ketika UMKM terbiasa dengan transaksi digital, mereka memiliki jejak keuangan yang lebih jelas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuka akses terhadap layanan keuangan lain, seperti pembiayaan atau kredit usaha.

Adaptasi Menuju Ekosistem Digital yang Berkelanjutan

Kepala Dispora Kota Bogor, Anas S. Rasmana, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai penggunaan QRIS dalam kegiatan publik dapat meningkatkan kemudahan dan keamanan transaksi.

Menurutnya, adaptasi terhadap sistem pembayaran digital adalah bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan di era digital. Transparansi transaksi menjadi nilai tambah, baik bagi penyelenggara acara maupun pelaku usaha.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat semakin mengutamakan efisiensi. Mereka ingin proses yang cepat tanpa mengurangi rasa aman. QRIS menjawab kebutuhan itu dengan pendekatan sederhana: satu kode untuk berbagai aplikasi pembayaran.

Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu hadir dalam bentuk yang rumit. Terkadang, perubahan besar justru dimulai dari kebiasaan kecil—seperti memindai kode sebelum menikmati segelas minuman setelah berolahraga.

QRIS dan Wajah Baru Transaksi Publik

Lonjakan 139,99 persen pada kuartal IV 2025 bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada jutaan transaksi, ribuan pelaku usaha, dan perubahan perilaku masyarakat yang berlangsung pelan namun pasti.

Kehadiran QRIS di ruang publik seperti Funday Bogor memperlihatkan bagaimana teknologi dapat memperkuat aktivitas sosial, bukan menggantikannya. Orang tetap berkumpul, berolahraga, bercengkerama—hanya cara membayarnya yang berubah.

Dengan dukungan Bank Indonesia, kolaborasi pemerintah daerah, dan peran perusahaan seperti Jatelindo, ekosistem pembayaran digital semakin kokoh. Tantangannya kini bukan lagi pada penerimaan teknologi, melainkan pada konsistensi edukasi dan perluasan akses.

Jika tren ini berlanjut, QRIS berpotensi menjadi tulang punggung transaksi publik di berbagai kegiatan—dari pasar rakyat hingga ajang olahraga besar. Di sanalah transformasi digital menemukan maknanya: mempermudah hidup, memperluas kesempatan, dan menghadirkan sistem yang lebih transparan bagi semua.***

Pos terkait