Warta Kaili – Post-Disaster Recovery Palu menjadi sorotan dalam kunjungan delegasi Myanmar ke Kota Palu, Rabu (26/2/2026). Pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan ruang belajar bersama tentang bagaimana sebuah kota yang pernah porak-poranda mampu bangkit dengan lebih kuat dan terencana.
Kunjungan tersebut difasilitasi oleh World Bank dalam kerangka memperkuat kerja sama regional di bidang ketahanan bencana. Delegasi Myanmar diterima di Kantor Wali Kota Palu oleh Rahmad Mustafa, Pelaksana Tugas Asisten Perekonomian dan Pembangunan, mewakili Wali Kota Palu, bersama jajaran pejabat senior pemerintah kota.
Post-Disaster Recovery Palu dan Kesamaan Tantangan Geologi
Dalam sambutannya, Rahmad menegaskan bahwa Post-Disaster Recovery Palu lahir dari pengalaman pahit, namun juga dari tekad kolektif masyarakat. Ia menyebut, Palu dan Myanmar memiliki kesamaan dalam menghadapi risiko bencana geologi.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kota Palu, kami menyambut hangat kedatangan Anda. Kita berbagi tantangan serupa dalam menghadapi risiko bencana, dan kami menghargai kesempatan untuk saling belajar,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Palu pernah dilanda gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 2018 yang menimbulkan kerusakan besar serta korban jiwa. Sejak saat itu, Post-Disaster Recovery Palu menjadi agenda prioritas yang dijalankan secara bertahap melalui rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang.
Dari Trauma Menuju Rekonstruksi Tahan Bencana
Dalam forum diskusi, jajaran Pemerintah Kota Palu memaparkan berbagai langkah strategis yang telah dilakukan. Post-Disaster Recovery Palu tidak hanya berfokus pada membangun kembali fisik kota, tetapi juga membangun sistem yang lebih tangguh.
Sejumlah infrastruktur vital dibangun ulang dengan standar tahan gempa, mulai dari jembatan, rumah sakit, hingga sekolah. Selain itu, pemerintah mengembangkan hunian tetap di kawasan yang secara geologi lebih aman. Kebijakan tata ruang berbasis risiko pun ditegakkan, dengan membatasi pembangunan baru di zona rawan tinggi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Post-Disaster Recovery Palu tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan melalui perencanaan berbasis data dan kajian risiko. Kota ini berupaya memastikan bahwa tragedi masa lalu tidak terulang dengan dampak yang sama.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Peran Komunitas
Diskusi antara delegasi Myanmar dan Pemerintah Kota Palu juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Post-Disaster Recovery Palu dijalankan dengan melibatkan pemerintah pusat, lembaga internasional, sektor swasta, dan masyarakat sipil.
Program pembangunan hunian tetap, pemulihan infrastruktur kritis, serta inisiatif ketahanan berbasis komunitas menjadi contoh konkret bagaimana masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Bagi Palu, rekonstruksi bukan hanya soal beton dan baja, tetapi juga soal memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri warga.
Delegasi Myanmar tampak antusias menggali pengalaman Palu, terutama dalam hal penguatan kapasitas kelembagaan dan manajemen risiko bencana. Pertukaran ini menjadi bukti bahwa pengalaman pahit dapat menjadi pelajaran berharga bagi kawasan lain yang menghadapi ancaman serupa.
Palu sebagai Pusat Pembelajaran Ketahanan
Rahmad menegaskan bahwa Post-Disaster Recovery Palu kini diarahkan untuk menempatkan kota ini sebagai pusat pembelajaran rekonstruksi berkelanjutan. Palu tidak ingin selamanya dikenal sebagai kota terdampak bencana, melainkan sebagai kota yang berhasil bangkit dengan pendekatan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Semangat tersebut terasa dalam suasana pertemuan yang hangat dan konstruktif. Kedua pihak berbagi cerita, tantangan, serta harapan ke depan. Tidak ada kesan menggurui; yang ada adalah dialog setara antarwilayah yang sama-sama pernah merasakan kehilangan.
Bagi Myanmar, kunjungan ini menjadi kesempatan melihat langsung bagaimana Post-Disaster Recovery Palu diterjemahkan dalam kebijakan konkret. Bagi Palu, ini adalah momen refleksi atas perjalanan panjang sejak 2018—bahwa setiap jembatan yang berdiri kembali dan setiap rumah yang dibangun ulang menyimpan cerita perjuangan.
Menguatkan Kerja Sama Asia Tenggara
Pertemuan ini diharapkan menjadi awal kerja sama yang lebih erat dan berkelanjutan dalam manajemen risiko bencana di kawasan Asia Tenggara. Post-Disaster Recovery Palu menjadi contoh bahwa solidaritas regional sangat penting dalam menghadapi ancaman yang tidak mengenal batas negara.
Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana, pengalaman Palu menawarkan pelajaran tentang pentingnya perencanaan berbasis risiko, transparansi, serta pelibatan masyarakat. Kota ini menunjukkan bahwa pemulihan bukan sekadar kembali ke kondisi semula, melainkan kesempatan untuk membangun lebih baik.
Pada akhirnya, kunjungan delegasi Myanmar ke Palu bukan hanya tentang berbagi strategi teknis. Ia adalah pertemuan dua wilayah yang pernah terluka, namun memilih untuk bangkit. Dan dari Palu, pesan itu kembali ditegaskan: dari tragedi, lahir ketangguhan; dari kehilangan, tumbuh harapan.***
