Bahasa sebagai Rahasia Awet Muda yang Sering Terlupakan

Ilustrasi aktivitas multilingualisme dan penuaan dini: seorang lansia membaca buku bahasa asing sambil berdiskusi, menggambarkan latihan kesehatan otak untuk memperlambat penuaan dini
Multilingualisme dan penuaan dini – ilustrasi orang lanjut usia belajar bahasa asing untuk menjaga kesehatan otak dan mencegah penurunan kognitif.(Foto:Envato)

Warta Kaili – Multilingualisme dan penuaan dini bukan sekadar isu linguistik, melainkan persoalan kesehatan jangka panjang. Penuaan memang tak terhindarkan. Seiring waktu, tubuh menunjukkan tanda-tandanya: lebih cepat lelah, massa otot menyusut, kulit mengendur, rambut memutih. Namun, yang jarang disadari, proses ini tak hanya terjadi pada tubuh—melainkan juga pada otak.

Ilmu biologi modern mengenal istilah “sel zombi”, yakni sel tua yang berhenti membelah tetapi tidak mati. Sel-sel ini menumpuk, memicu sinyal peradangan, dan mengganggu keseimbangan energi dalam tubuh. Akibatnya, jaringan menjadi lebih rentan terhadap kerusakan. Stres kronis memperparah keadaan ini, mempercepat ritme penuaan biologis.

Kabar baiknya, tubuh memiliki mekanisme pertahanan alami. Sel pembunuh alami (natural killer cells) dapat membantu membersihkan sel-sel bermasalah tersebut. Aktivitas fisik teratur terbukti merangsang kerjanya. Namun, ada satu hal lain yang sering luput dari perhatian: aktivitas serebral, terutama belajar dan menggunakan lebih dari satu bahasa.

Keterampilan Bahasa dan Harapan Hidup

Sejumlah studi internasional dalam satu dekade terakhir menunjukkan pola yang konsisten. Aktivitas kognitif aktif—seperti belajar hal baru, membaca, berdiskusi, serta berbicara dalam beberapa bahasa—berkorelasi dengan ketahanan fungsi otak.

Riset lintas 27 negara Eropa yang dipublikasikan pada November 2025 menemukan fakta menarik: individu monolingual, yang hanya menggunakan satu bahasa, memiliki angka harapan hidup rata-rata lima tahun lebih pendek dibandingkan mereka yang multilingual. Sebaliknya, individu yang menguasai beberapa bahasa menunjukkan tambahan usia harapan hidup lebih dari tiga tahun.

Penelitian lain pada 2020 mengungkap bahwa individu bilingual mengalami gejala Alzheimer sekitar empat tahun lebih lambat dibandingkan mereka yang hanya menggunakan satu bahasa. Alzheimer bukan sekadar lupa biasa. Ia adalah penyakit neurodegeneratif yang menggerogoti daya ingat, kemampuan berpikir, berbicara, hingga perilaku.

Mengapa ini bisa terjadi?

Bacaan Lainnya

Ketika seseorang berganti-ganti bahasa, otaknya bekerja lebih keras. Ia harus memilih kosakata, menyaring struktur kalimat, dan menekan bahasa lain yang tidak sedang digunakan. Proses ini membentuk apa yang disebut sebagai cadangan kognitif—semacam tabungan kapasitas mental yang membuat otak lebih tahan terhadap kerusakan akibat usia.

Semakin besar cadangan kognitif seseorang, semakin lambat dampak penuaan terasa pada fungsi berpikirnya.

Multilingualisme Bukan Sekadar Tren, tapi Investasi Otak

Di Indonesia, multilingualisme sebenarnya bukan hal asing. Kita hidup di negeri dengan lebih dari 700 bahasa daerah. Banyak orang tumbuh dengan bahasa ibu berupa bahasa daerah, menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, lalu mempelajari bahasa asing seperti Inggris di sekolah.

Secara alamiah, masyarakat Indonesia memiliki potensi cadangan kognitif yang lebih besar dibanding masyarakat homogen secara bahasa. Namun, potensi ini baru memberi dampak jika digunakan secara aktif.

Bahasa ibu biasanya dipakai dalam keluarga atau komunitas lokal. Bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi lintas etnis. Bahasa asing membuka akses ke ilmu pengetahuan global. Ketika semua itu digunakan secara bergantian, otak dilatih untuk fleksibel, adaptif, dan responsif.

Dalam perspektif kesehatan, multilingualisme bukan sekadar keterampilan sosial atau akademik. Ia adalah bentuk latihan mental jangka panjang yang memperkuat jaringan saraf.

Jangan Belajar Bahasa karena Terpaksa

Meski demikian, tidak semua pengalaman belajar bahasa menghasilkan manfaat yang sama. Faktor sosial dan psikologis memegang peranan penting.

Penelitian menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari multilingualisme cenderung lebih terasa pada mereka yang belajar dalam kondisi kondusif: memiliki akses pendidikan baik, lingkungan suportif, serta motivasi intrinsik. Sebaliknya, pembelajaran yang dilandasi tekanan, keterpaksaan, atau stres berat dapat meniadakan manfaat tersebut.

Ini menjelaskan mengapa tidak semua program wajib bahasa di sekolah menghasilkan dampak optimal. Jika proses belajar hanya dipenuhi kecemasan nilai atau tuntutan administratif, otak justru berada dalam mode bertahan, bukan berkembang.

Motivasi pribadi—keinginan memahami budaya lain, membaca literatur asing, atau sekadar menikmati percakapan lintas bahasa—memberi efek berbeda. Proses belajar menjadi menyenangkan, otak aktif tanpa tekanan berlebihan, dan manfaat kognitif lebih maksimal.

Bahasa sebagai Latihan Emosional dan Sosial

Belajar bahasa tidak hanya melatih memori dan konsentrasi. Ia juga melatih empati. Setiap bahasa membawa cara pandang, struktur berpikir, dan nuansa budaya yang berbeda. Ketika seseorang menguasai lebih dari satu bahasa, ia belajar melihat dunia dari sudut pandang lain.

Kemampuan ini berdampak pada kesehatan mental. Individu multilingual cenderung lebih adaptif dalam situasi sosial, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih terlatih dalam mengelola respons emosional. Dalam jangka panjang, stabilitas emosional turut berkontribusi terhadap penuaan yang lebih sehat.

Otak yang aktif, fleksibel, dan terhubung secara sosial adalah otak yang lebih tahan terhadap kemunduran.

Investasi Kecil, Dampak Panjang

Tak perlu menunggu usia lanjut untuk memulai. Semakin dini seseorang terpapar dan menggunakan lebih dari satu bahasa, semakin besar cadangan kognitif yang dibangun. Namun, memulai di usia dewasa pun tetap memberi manfaat.

Belajar bahasa bisa dimulai dari langkah sederhana: membaca artikel asing, menonton film tanpa sulih suara, mengikuti kursus daring, atau bergabung dalam komunitas percakapan. Konsistensi lebih penting daripada kecepatan.

Penuaan memang bagian dari hidup. Tetapi memperlambat dampaknya adalah pilihan yang bisa diupayakan. Jika olahraga menjaga tubuh tetap kuat, maka belajar bahasa menjaga otak tetap tajam.

Pada akhirnya, multilingualisme bukan hanya soal kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa. Ia adalah bentuk perawatan diri yang halus, sunyi, tetapi berdampak panjang. Sebuah investasi mental yang mungkin tak langsung terasa, namun bekerja perlahan menahan jarum jam biologis.

Mungkin rahasia awet muda itu bukan terletak pada krim mahal atau suplemen ajaib. Bisa jadi, ia tersembunyi dalam keberanian kita mempelajari kata-kata baru—dan menggunakannya untuk terus terhubung dengan dunia.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *