Kesepakatan Ukraina Berlanjut: 5 Sikap Tegas Kremlin Meski Kecewa pada AS

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat pertemuan bilateral di Alaska, Agustus 2025
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan bilateral di Alaska, 15 Agustus 2025. (Foto: X/The White House)

Kesepakatan Ukraina Berlanjut di Tengah Kekecewaan Kremlin

Warta KailiKesepakatan Ukraina Berlanjut meski rasa kecewa terhadap Amerika Serikat tak sepenuhnya tersembunyi. Kremlin menegaskan bahwa jalur kerja sama dengan Washington masih terbuka, terutama dalam implementasi kesepahaman yang lahir dari pertemuan tingkat tinggi kedua negara.

Pernyataan ini disampaikan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam jumpa pers di Moskow, Senin, 9 Februari 2026. Meski dinamika hubungan Rusia–AS terus diuji oleh ketegangan geopolitik, Moskow memilih untuk tetap berdiri pada komitmen awal: menjaga dialog dan mendorong penyelesaian konflik Ukraina melalui kesepakatan yang telah dibangun.

Berikut lima sikap utama Kremlin yang menunjukkan bagaimana Rusia menavigasi kekecewaan tanpa menutup pintu diplomasi.

1. Komitmen pada “Semangat Anchorage” Tetap Dijaga

Kremlin menyebut kesepahaman hasil pertemuan Presiden Rusia dan Presiden Amerika Serikat di Anchorage, Alaska, tahun lalu sebagai semangat Anchorage”. Bagi Moskow, kesepakatan ini bukan sekadar dokumen politik, melainkan fondasi moral dan strategis untuk meredakan konflik Ukraina.

Peskov menegaskan, kesepahaman tersebut bersifat fundamental dan memiliki potensi besar untuk membuka terobosan damai. Dalam suasana global yang sarat ketidakpercayaan, Rusia memilih mempertahankan benang tipis dialog daripada memutuskannya.

2. Diplomasi Senyap Lebih Dipilih daripada Tekanan Publik

Dalam konteks Kesepakatan Ukraina Berlanjut, Kremlin menilai implementasi kesepahaman sebaiknya dilakukan secara tertutup. Menurut Peskov, diplomasi yang terlalu terbuka justru rentan terhadap tekanan opini publik dan kepentingan jangka pendek.

Bacaan Lainnya

Bagi Moskow, proses damai membutuhkan ruang tenang—tempat kompromi dapat dirumuskan tanpa sorotan berlebihan. Sikap ini mencerminkan pendekatan Rusia yang berhati-hati, sekaligus realistis, dalam membaca dinamika politik internasional.

3. Rusia Masih Menunggu Respons Konkret dari Washington

Meski komitmen ditegaskan, Kremlin tidak menutup mata terhadap stagnasi. Peskov mengungkapkan bahwa Rusia masih menunggu tanggapan Amerika Serikat atas usulan Presiden Vladimir Putin, termasuk gagasan penggunaan aset Rusia yang dibekukan di AS.

Usulan tersebut dimaksudkan untuk membiayai keanggotaan dalam Dewan Perdamaian yang dipromosikan Washington. Bagi Rusia, ini adalah bentuk itikad baik—sekaligus ujian keseriusan Amerika Serikat dalam menindaklanjuti dialog.

4. Lavrov Terbuka Soal Kekecewaan Rusia

Nada lebih keras datang dari Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Ia secara terbuka menyatakan kekecewaan terhadap Amerika Serikat yang dinilai tidak lagi siap mengimplementasikan proposal yang sebelumnya diajukan dalam pertemuan Anchorage.

Padahal, menurut Lavrov, Rusia telah menyatakan kesiapan penuh untuk melangkah lebih jauh. Kekecewaan ini bukan sekadar keluhan diplomatik, melainkan cerminan retaknya kepercayaan yang selama ini coba dirajut kembali.

5. Isu Ukraina Tak Bisa Dipisahkan dari Ketegangan Global

Lavrov juga menyinggung absennya prospek cerah dalam kerja sama ekonomi Rusia–AS. Bahkan, kritik Kremlin meluas hingga kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba, khususnya sanksi yang disebut sebagai taktik pencekikan.

Bagi Moskow, konflik Ukraina tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan pola kebijakan global Washington yang dinilai masih mengandalkan tekanan ekonomi dan politik sebagai alat utama.

Refleksi: Menjaga Dialog di Tengah Luka Diplomasi

Sikap Kremlin menunjukkan paradoks yang manusiawi: kecewa, tetapi tidak menyerah. Dalam dunia diplomasi, mempertahankan dialog sering kali lebih sulit daripada memutuskannya. Rusia memilih jalan yang tidak populer, tetapi mungkin paling rasional—tetap berbicara, meski dengan rasa waswas.

Kesepakatan Ukraina Berlanjut bukan hanya tentang dua negara besar, melainkan tentang jutaan warga sipil yang terdampak konflik berkepanjangan. Di titik ini, diplomasi bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan soal keberanian untuk tetap duduk di meja yang sama, meski kepercayaan belum sepenuhnya pulih.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *