Warta Kaili – Fenomena kencan di media sosial kembali melahirkan istilah baru yang ramai diperbincangkan: High-Effort Boyfriend. Istilah ini merujuk pada gambaran pasangan pria yang dinilai “total” dalam menunjukkan perhatian dan usaha dalam hubungan.
Melalui video singkat di TikTok dan unggahan estetik di Instagram, sosok ini digambarkan sebagai pria yang selalu hadir, penuh perhatian, responsif secara emosional, dan siap berkorban demi kebahagiaan pasangannya.
Sekilas, tren ini terasa menyenangkan dan bahkan menenangkan. Pesan yang disampaikan tampak sederhana dan positif: perempuan wajar memiliki standar tinggi dalam hubungan, dan pasangan ideal adalah mereka yang mau berusaha, konsisten, serta tidak setengah-setengah.
Di tengah cerita relasi yang sering diwarnai ketidakpastian, ghosting, dan minim komunikasi, gambaran High-Effort Boyfriend hadir sebagai antitesis—relasi yang pasti, jelas, dan penuh perhatian.
Namun, seiring popularitasnya, makna “usaha” dalam tren ini mulai bergeser. Banyak konten justru menitikberatkan pada aspek finansial. High effort sering kali diartikan sebagai pria yang selalu membayar semua kebutuhan, tidak membiarkan pasangannya mengeluarkan uang, mengatur pengeluaran, hingga membelikan barang tanpa diminta.
Dalam narasi yang berulang, perhatian seolah diukur dari seberapa besar kemampuan materi yang ditunjukkan.
Di sinilah diskusi mulai menghangat. Sebagian melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian, sementara yang lain mempertanyakan batas antara dimanjakan dan kehilangan kemandirian.
Ketika satu pihak selalu mengambil alih urusan finansial, muncul pertanyaan: apakah itu pilihan bersama, atau standar yang diam-diam menekan?
Tak hanya soal uang, tren ini juga kerap menampilkan perhatian berlebih pada penampilan pasangan perempuan. Ada konten yang menunjukkan pasangan pria mengatur jadwal perawatan diri, memilihkan pakaian, hingga memastikan pasangannya selalu tampil “optimal”.
Bagi sebagian orang, ini dianggap romantis. Namun bagi yang lain, praktik semacam ini berpotensi mengaburkan batas antara perhatian dan kontrol.
Mengutip laporan Independent, sejumlah pengamat relasi menilai perhatian yang berlebihan bisa menjadi masalah ketika mengikis tanggung jawab personal. Hubungan yang sehat, menurut mereka, tetap memberi ruang bagi masing-masing individu untuk mengatur dirinya sendiri—baik secara emosional, finansial, maupun sosial.
Usaha dalam hubungan idealnya bersifat timbal balik dan lahir dari kepedulian, bukan kewajiban sepihak atau tuntutan tak terucap.
Pada akhirnya, tren High-Effort Boyfriend mencerminkan kerinduan banyak orang untuk dicintai secara konsisten dan dihargai dengan nyata. Itu bukan hal yang keliru.
Namun, relasi yang sehat tidak hanya soal seberapa besar usaha yang ditunjukkan, melainkan juga tentang keseimbangan, kebebasan memilih, dan pertumbuhan bersama.
Cinta yang dewasa bukan sekadar memberi tanpa batas, melainkan berjalan berdampingan tanpa menghilangkan kemandirian masing-masing.





