Warta Kaili – Harga cabai rawit naik 2026 menjadi perbincangan hangat di minggu pertama Ramadan. Di sejumlah daerah, lonjakan harga terasa signifikan hingga memicu perhatian nasional. Namun di Kota Palu, situasinya relatif terkendali. Pemerintah daerah memastikan pasokan cukup dan harga masih dalam batas wajar.
Fenomena kenaikan harga cabai, terutama cabai rawit merah, bahkan dibahas dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Nasional bersama Badan Pangan Nasional. Secara nasional, harga cabai rawit merah tercatat menembus Rp88.462 per kilogram atau naik Rp8.591 dalam sehari berdasarkan data resmi yang dirilis di Jakarta.
Di tengah kabar tersebut, Palu justru menunjukkan kondisi yang lebih stabil.
Harga Cabai Rawit Naik 2026, Data Kota Palu Masih Aman
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu, Sutikno, menegaskan bahwa harga di wilayahnya masih terkendali.
Di pasar tradisional Kota Palu, cabai merah keriting tercatat Rp25 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit hijau berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram, dan cabai rawit merah Rp55 ribu per kilogram.
“Kalau dibandingkan dengan data nasional, ini masih masuk hitungan stabil,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (23/2/2026).
Angka tersebut memang lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang mendekati Rp90 ribu per kilogram untuk cabai rawit merah. Perbedaan ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang tengah menyiapkan kebutuhan sahur dan berbuka. Belum terjadi di Palu harga cabai rawit naik 2026.
Pasar Murah Diserbu Warga, Cabai Rp25 Ribu Langsung Habis
Pada pelaksanaan pasar murah pekan lalu, cabai rawit bahkan dijual Rp25 ribu per kilogram. Komoditas itu dipasok langsung dari petani di wilayah Tondo.
Hasilnya, cabai tersebut langsung habis diserbu warga. Antusiasme masyarakat menunjukkan betapa pentingnya stabilitas harga bahan pokok di bulan Ramadan, mengantisipasi harga cabai rawit naik 2026.
Program pasar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) menjadi salah satu instrumen pengendalian harga. Dalam setahun, DPKP Kota Palu menargetkan pelaksanaan GPM dan pasar tani sebanyak delapan kali.
Perbedaannya, GPM melibatkan pasokan dari petani dan distributor, sementara pasar tani mengambil langsung dari petani. Skema ini dinilai efektif memangkas rantai distribusi sehingga harga bisa ditekan.
Perbandingan Harga Nasional dan Lokal
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, harga sejumlah komoditas secara nasional pada Minggu (22/2/2026) pukul 06.49 WIB mencatat fluktuasi:
- Cabai rawit merah: Rp88.462/kg (naik Rp8.591)
- Telur ayam ras: Rp31.889/kg (naik Rp612)
- Bawang merah: Rp42.846/kg (naik Rp602)
- Bawang putih: Rp35.667/kg (turun Rp3.501)
- Beras premium: Rp15.425/kg (turun Rp167)
- Daging sapi murni: Rp139.667/kg (naik Rp1.611)
Sementara di Palu, bawang merah berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram dan bawang putih Rp40 ribu per kilogram. Selisih ini menunjukkan bahwa kondisi distribusi dan pasokan di daerah masih cukup terkendali, meski harga cabai rawit naik 2026.
Stok Pangan Dipantau Setiap Pekan
DPKP Kota Palu menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir. Stok pangan dinilai masih mencukupi dan terus dipantau melalui neraca pangan mingguan.
“Intinya masyarakat tidak perlu khawatir. Stok kita masih cukup. Neraca pangan kita pantau setiap minggu,” tegas Sutikno.
Satgas Pangan juga rutin meninjau pasar dan mengimbau pedagang agar tidak menaikkan harga secara sepihak. Pendekatan persuasif dilakukan agar stabilitas tetap terjaga tanpa menimbulkan keresahan harga cabai rawit naik 2026.
Pertengahan Ramadan, GPM Kembali Digelar
Memasuki pertengahan Ramadan, DPKP Kota Palu berencana kembali menggelar Gerakan Pangan Murah di halaman kantor dinas. Tahun ini, komoditas yang dilibatkan tidak hanya sayuran dan bahan pokok, tetapi juga ikan laut, ikan tawar, serta daging.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah. Dengan memperluas jenis komoditas, pemerintah berharap tekanan harga menjelang Idul Fitri dapat diminimalkan.
Bagi warga, keberadaan GPM bukan sekadar soal harga murah. Ia menjadi ruang interaksi antara petani dan konsumen, sekaligus simbol gotong royong ekonomi lokal.
Ramadan, Antara Kebutuhan dan Ketahanan
Harga cabai rawit naik 2026 memang menjadi fenomena yang hampir selalu berulang setiap Ramadan. Permintaan meningkat, distribusi kadang tersendat, dan cuaca turut memengaruhi hasil panen.
Namun pengalaman menunjukkan, kepanikan justru memperburuk keadaan. Di Palu, pendekatan yang dilakukan pemerintah daerah menekankan pada transparansi data, pengawasan rutin, serta intervensi pasar yang terukur.
Warga pun diimbau berbelanja bijak, membeli sesuai kebutuhan, dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Di tengah dinamika harga, Ramadan tetaplah tentang kesederhanaan. Tentang menahan diri, termasuk dalam pola konsumsi. Kabar bahwa harga cabai rawit naik 2026 secara nasional memang patut dicermati, tetapi situasi di Palu menunjukkan bahwa stabilitas bisa dijaga dengan koordinasi yang baik.
Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan bukan sekadar harga murah, melainkan rasa tenang. Dan untuk minggu pertama puasa tahun ini, Palu masih memiliki ketenangan itu.***
Reporter: Nazirah Amaliah
Editor: Ikhsan Madjido





