Warta Kaili — Ia dijuluki gas tertawa, seolah hanya membawa keriangan singkat tanpa konsekuensi. Padahal, di balik namanya yang terdengar ringan, dinitrogen oksida menyimpan risiko yang berat: kerusakan otak, gangguan saraf permanen, hingga kematian mendadak.
Pertanyaannya sederhana namun mendesak: mengapa zat berbahaya ini masih dijual bebas?
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengeluarkan peringatan keras tentang penyalahgunaan nitrous oxide—atau laughing gas/happy gas—untuk tujuan hiburan.
Zat ini sejatinya bukan barang haram. Dalam dunia medis, dinitrogen oksida digunakan sebagai campuran anestesi ringan dan pereda nyeri, misalnya saat pencabutan gigi. Ada pula versi food grade yang aman dipakai untuk membuat krim kocok. Legalitas inilah yang menjadi pintu masuk masalah.
Ketika fungsi medis dan kuliner bertemu dengan budaya hiburan instan, gas ini mulai disalahgunakan. Anak-anak muda menghirupnya lewat balon—praktik yang dikenal sebagai ngebalon—demi efek mabuk cepat dan halusinasi singkat.
Efeknya memang terasa sekejap, tetapi dampaknya bisa menetap seumur hidup, bahkan merenggut nyawa dalam hitungan menit.
Di Amerika Serikat, produk dinitrogen oksida dipasarkan dengan nama-nama yang terdengar akrab dan “ramah”, seperti Galaxy Gas atau Miami Magic. Gas tersebut dikemas dalam kartrid baja kecil yang dikenal sebagai whippets.
Harganya murah, mudah ditemukan di toko serba ada, toko rokok, hingga ritel besar, dan dijual luas secara daring. Kombinasi harga terjangkau, akses mudah, dan citra aman membuat banyak orang lengah.
Padahal, bukti medis menunjukkan sebaliknya. Penyalahgunaan dinitrogen oksida, terutama dalam jangka panjang, dapat mengganggu kemampuan berpikir dan mengingat, memicu halusinasi, sakit kepala, pusing, perubahan suasana hati, hingga pembekuan darah.
Dampak lainnya mencakup kelemahan anggota tubuh, kesulitan berjalan, serta neuropati perifer—nyeri, mati rasa, dan kesemutan akibat kerusakan saraf tepi.
Pada kondisi yang lebih parah, gas tertawa dapat mengganggu fungsi usus dan kandung kemih, merusak sumsum tulang belakang, serta menyebabkan kerusakan otak permanen. Salah satu penyebab utamanya adalah defisiensi vitamin B12.
Dinitrogen oksida menghambat metabolisme vitamin ini, padahal B12 sangat penting bagi kesehatan saraf. Kekurangan yang berkepanjangan dapat berujung pada kerusakan saraf yang tidak bisa dipulihkan.
Data memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam lima tahun terakhir (2019–2023), jumlah pasien gawat darurat akibat penyalahgunaan dinitrogen oksida di AS meningkat 32 persen.
Kematian yang terkait dengan penggunaannya melonjak lebih dari 100 persen. Hingga 2023, lebih dari 13 juta warga AS dilaporkan pernah menyalahgunakan gas ini setidaknya sekali. Ironisnya, anak-anak dan remaja termasuk di dalamnya.
Pada 2024, lebih dari 4 persen siswa kelas delapan dan 2 persen siswa kelas dua belas di AS mengaku pernah mencoba inhalan—kategori zat kimia yang dihirup untuk menimbulkan efek mabuk—termasuk lem, bensin, dan dinitrogen oksida.
Gas tertawa atau whip pink menjadi inhalan paling populer karena murah, legal, dan dikemas menarik, bahkan diberi varian rasa seperti “permen karet merah muda”. Bahaya pun tersamarkan oleh kemasan.
Lalu, mengapa gas tertawa masih dijual bebas? Di AS, celah hukum dalam Undang-Undang FDA membuat peredaran dinitrogen oksida untuk tujuan hiburan tidak dilarang secara tegas. Selama tidak diklaim untuk penggunaan medis, produk ini lolos dari regulasi ketat.
Situasinya berbeda di sejumlah negara lain. Inggris, Belanda, Vietnam, dan Australia telah melarang penggunaan dinitrogen oksida untuk hiburan.
Di Indonesia, aturan juga masih longgar. Badan Narkotika Nasional (BNN) memandang dinitrogen oksida sebagai senyawa legal untuk keperluan medis dan industri, serta tidak menggolongkannya sebagai narkotika. Secara hukum, posisi ini dapat dipahami.
Namun, secara kesehatan masyarakat, kelonggaran tersebut menyimpan risiko besar—terutama bagi generasi muda yang rentan terhadap eksperimen berbahaya.
Sejarah mencatat, manusia telah lama mengetahui sisi gelap gas ini. Pada akhir abad ke-18, dinitrogen oksida populer dalam pesta “gas tertawa”. Baru pada pertengahan abad ke-19, seorang dokter gigi bernama Horace Wells menyadari manfaat medisnya setelah menyaksikan efek mati rasa pada peserta pertunjukan. Penemuan itu membawa dinitrogen oksida ke ruang praktik medis, di mana penggunaannya aman karena terukur dan diawasi ketat.
Hingga kini, gas ini tetap bermanfaat dalam dunia kesehatan. Ia digunakan sebagai penenang ringan, pereda nyeri, dan bahkan diteliti untuk membantu pasien dengan depresi berat yang kebal obat, gangguan bipolar, serta kecemasan. Namun, manfaat tersebut hanya berlaku dalam konteks medis yang terkendali—bukan dihirup sembarangan di ruang publik atau kamar kos.
Pencegahan sebetulnya mungkin dilakukan. Meski pemerintah federal AS belum menetapkan batasan usia, beberapa negara bagian telah bertindak. Per Mei 2025, Louisiana, Michigan, Alabama, dan California melarang penggunaan dinitrogen oksida untuk hiburan. Lebih dari 30 negara bagian lain tengah mengupayakan pembatasan serupa. Gugatan terhadap produsen pun mulai bermunculan.
Penelitian menunjukkan, program edukasi pencegahan di sekolah efektif menurunkan penggunaan inhalan. Peran dokter dan psikiater dalam deteksi dini juga krusial. Semakin cepat intervensi dilakukan, semakin besar peluang anak dan remaja terhindar dari kecanduan dan dampak jangka panjangnya.
Gas tertawa memberi pelajaran penting: legal tidak selalu berarti aman. Tanpa penegakan hukum yang tegas, edukasi publik yang konsisten, dan kewaspadaan medis, zat ini akan terus beredar sebagai ancaman sunyi.
Kita tidak bisa menunggu hingga angka kematian bertambah untuk bertindak. Di balik tawa sesaat, ada risiko yang terlalu mahal untuk diabaikan.***




