Denda Metanol Laos Rp3 Juta untuk Nyawa Anak

Bianca Jones dan Holly Morton-Bowles, korban dalam kasus denda metanol Laos setelah keracunan alkohol oplosan di Vang Vieng, November 2024
Bianca Jones dan Holly Morton-Bowles (19) tewas akibat keracunan metanol bersama empat turis lain setelah bermalam di Nana Backpackers Hostel, Vang Vieng, Laos, November 2024. (Foto: Keluarga via The Guardian)

Warta Kaili – Denda metanol laos mengejutkan orang tua korban. Sudah lebih dari setahun setelah dua remaja asal Melbourne meregang nyawa akibat minuman beralkohol bercampur metanol di Laos, luka para keluarga korban justru terasa kembali menganga. Bukan karena kabar tentang proses hukum yang menenangkan, melainkan sebaliknya: staf hostel yang terkait dengan peristiwa tragis itu hanya dijatuhi denda setara $185—sekitar Rp3 juta.

Bagi orang tua korban, angka itu terasa seperti penghinaan atas nyawa anak-anak mereka.

Bianca Jones dan Holly Morton-Bowles, masing-masing berusia 19 tahun, meninggal dunia pada November 2024 setelah menenggak minuman beralkohol yang terkontaminasi metanol di Nana Backpackers Hostel, Vang Vieng, Laos. Mereka bukan satu-satunya. Empat wisatawan lain dari berbagai negara turut menjadi korban dalam tragedi yang mengguncang komunitas internasional itu.

Kabar Datang Diam-Diam, Duka Datang Seketika

Ayah Holly, Shaun Bowles, dan ayah Bianca, Mark Jones, mengaku mengetahui putusan pengadilan itu bukan dari otoritas Laos atau Australia, melainkan dari grup percakapan keluarga korban yang dibuat oleh orang tua Simone White, seorang pengacara asal Inggris yang juga tewas dalam insiden tersebut.

Dari sanalah mereka mengetahui bahwa 10 orang yang terkait dengan hostel telah diadili pada Januari lalu, dijatuhi denda $185, serta hukuman percobaan karena menghancurkan barang bukti.

“Kami benar-benar terkejut. Ini ketidakadilan mutlak bagi anak-anak kami dan korban lainnya,” kata Mark Jones seperti dikutip dari 9News dengan suara bergetar.

Lebih menyakitkan lagi, mereka sama sekali tidak diberi tahu bahwa persidangan itu akan berlangsung.

Bacaan Lainnya

Denda Metanol Laos yang Tak Menyentuh Pokok Masalah

Awalnya, para orang tua mengira proses hukum tersebut berkaitan langsung dengan kematian anak-anak mereka. Namun kemudian, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) mengonfirmasi bahwa dakwaan penghancuran barang bukti itu hanya terkait dengan kematian seorang turis asal Amerika Serikat, bukan Bianca dan Holly.

Fakta itu menambah rasa frustrasi.

“Kami meminta pemerintah untuk benar-benar mewakili anak-anak kami sebagaimana layaknya,” ujar Shaun Bowles.
“Karena saat ini, kami seperti sudah kehabisan pilihan. Ini sungguh menghancurkan.”

Bagi keluarga korban, denda metanol Laos tersebut bukan hanya soal angka. Ia mencerminkan minimnya akuntabilitas atas tragedi yang merenggut enam nyawa muda.

Permintaan Maaf yang Datang Terlambat

DFAT akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban karena gagal menginformasikan hasil persidangan.

“Departemen menjunjung tinggi komitmen pelayanan konsuler dan memastikan kepentingan warga serta keluarga mereka menjadi prioritas,” bunyi pernyataan resmi DFAT.
“Dalam hal ini, kami tidak memenuhi standar yang kami harapkan sendiri.”

Permintaan maaf itu diakui, namun bagi keluarga, rasa kehilangan dan kecewa tak serta-merta terobati.

Tekanan Diplomatik dan Tuntutan Akuntabilitas

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menegaskan bahwa dirinya telah menyampaikan langsung kepada mitranya di Laos bahwa Australia menuntut akuntabilitas penuh.

“Dakwaan dan hukuman harus mencerminkan keseriusan tragedi ini,” kata Wong.
Ia juga memastikan bahwa Australia akan terus menekan otoritas Laos terkait kasus kematian Bianca dan Holly, serta mendampingi keluarga korban.

Sebelumnya, pemerintah Laos memang sempat berjanji akan “membawa para pelaku ke pengadilan sesuai hukum”. Namun, realisasi janji itu kini dipertanyakan.

Duka yang Bertambah Berat

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dalam sesi tanya jawab parlemen, mengakui bahwa perkembangan terbaru ini “menambah luka” bagi keluarga korban.

“Kami akan terus berinteraksi dengan otoritas Laos dan melakukan segala yang kami bisa untuk mendukung keluarga Holly dan Bianca di masa yang sangat menyedihkan ini,” ujarnya.

Dari tingkat negara bagian, Premier Victoria Jacinta Allan bahkan menyampaikan kritik yang lebih keras.

“Ini bahkan hampir tidak bisa disebut hukuman,” katanya lugas kepada wartawan.
“Benar-benar memilukan.”

Denda Metanol Laos dan Pesan yang Salah

Bagi keluarga korban dan banyak pengamat, denda metanol Laos ini menyampaikan pesan yang keliru: bahwa kelalaian fatal terhadap keselamatan wisatawan bisa ditebus dengan hukuman ringan.

Vang Vieng dikenal sebagai destinasi backpacker yang ramai, dengan budaya pesta yang kuat. Tragedi ini seharusnya menjadi peringatan keras tentang bahaya alkohol oplosan dan lemahnya pengawasan. Namun ketika hukuman terasa tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan, kepercayaan terhadap sistem hukum ikut terkikis.

Harapan yang Masih Bertahan

Di balik kemarahan dan kekecewaan, para orang tua korban masih menggenggam satu harapan: keadilan yang sesungguhnya. Bukan hanya untuk Bianca dan Holly, tetapi juga agar tidak ada keluarga lain yang harus menerima kabar kematian anaknya di negeri orang karena kelalaian yang bisa dicegah.

“Kami tidak akan berhenti bersuara,” kata salah satu orang tua korban dalam percakapan tertutup antar keluarga.
“Anak-anak kami lebih berharga dari angka di secarik putusan pengadilan.”

Tragedi ini mungkin terjadi jauh dari Melbourne, tetapi gaungnya terus menggema—mengingatkan bahwa keadilan, ketika terlambat atau terlalu ringan, bisa sama menyakitkannya dengan kehilangan itu sendiri.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *