Warta Kaili – Daytona 500 2026 bukan sekadar kemenangan pembuka musim. Bagi Nick Payne, spotter tahun keempat tim No. 45 milik 23XI Racing, momen itu adalah puncak dari kegelisahan, refleksi panjang, dan tekad yang tak pernah padam.
Di balik gemuruh tribun dan deru mesin, Payne berdiri di atas spotter stand dengan pikiran yang lebih sunyi dari biasanya. Ia tidak lagi ingin terlihat santai. Tidak banyak canda. Musim lalu terlalu berat untuk diulang.
Satu tahun sebelumnya, Tyler Reddick dan crew chief Billy Scott sudah melakukan evaluasi besar-besaran setelah musim tanpa kemenangan, padahal sebelumnya mereka mencatat tiga kemenangan dan tampil di babak final four. Payne merasa ia juga harus bercermin.
Di garasi NASCAR Cup Series, semua orang tahu: jika perubahan harus dilakukan, biasanya spotter menjadi salah satu yang pertama dievaluasi. Ia adalah penghubung antara pembalap dan crew chief. Posisi yang krusial, tetapi rentan.
Beberapa pekan lalu, Reddick meneleponnya. Hanya ingin memastikan keadaan. “Ada yang terasa berbeda,” begitu kira-kira nada percakapannya.
Payne menjawab jujur. Ia memang berubah. Ia lebih mengunci diri. Lebih fokus. Tidak lagi banyak bercanda.
“Saya ingin membuktikan bahwa saya memberikan segalanya untuk menang setiap akhir pekan,” ujarnya kepada Motorsport.com, Selasa (17/2/2026). Ia bahkan mengatakan secara langsung kepada Reddick bahwa target mereka jelas: memenangkan Daytona 500.
Bagi Payne, musim lalu bukan sekadar soal performa lintasan. Reddick menghadapi situasi pribadi berat: bayi mereka, Rookie, berjuang melawan tumor. Di saat yang sama, 23XI Racing bersama Front Row Motorsports terseret persoalan hukum dengan badan penyelenggara.
Tidak ada satu faktor tunggal yang merusak musim mereka. Namun Payne tahu, ia tak ingin mengalami situasi serupa dua kali.
Kini keadaan membaik. Rookie semakin sehat. Masalah hukum selesai dengan hasil positif bagi tim. Dan di balapan terbesar musim ini, mereka kembali ke Victory Lane.
“Kami punya orang-orang terbaik di sini,” kata Payne. “Tapi olahraga ini kejam. Semua harus berjalan sempurna. Dan sedikit keberuntungan juga perlu.”
Di lintasan seperti Daytona 500, eksekusi adalah segalanya. Kesalahan kecil bisa menghapus kerja keras berbulan-bulan.
Ketika mobil No. 45 melintasi garis finis, Reddick berkali-kali bertanya lewat radio: apakah mereka menang? Payne saat itu dikerumuni spotter lain. Headset Billy Scott bahkan terlempar ke rumput infield di tengah perayaan.
Di antara yang pertama memeluknya adalah Drew Herring dari Joe Gibbs Racing. Rasa hormat dari sesama spotter berarti besar bagi Payne. Di atas spotter stand, reputasi dibangun lewat ketenangan dan ketepatan, bukan sorotan kamera.
Ia bahkan melukai lututnya saat turun tergesa-gesa. Kulitnya tergores karena permukaan menara tidak ramah. Namun ia tak peduli. Ia hanya ingin memastikan satu hal lagi: menemukan ayahnya, Paul, dan membawanya ke Victory Lane di kompleks Daytona International Speedway.
“Siapa pun yang pernah ke Daytona tahu betapa mudahnya tersesat,” katanya sambil tertawa kecil.
Akhirnya ia tiba. Ucapan selamat berdatangan. Riley Herbst. Corey Heim. Bahkan pemilik tim, Michael Jordan, ikut memberi selamat.
Lalu datanglah momen itu.
Di Victory Lane, Payne terlihat membungkuk, emosional, seolah seluruh beban yang ia pikul runtuh dalam satu tarikan napas panjang.
“Itu saat di mana semuanya terasa nyata,” ujarnya. “Mungkin ini hari terbaik dalam hidup saya. Dan saya hanya ingin duduk sejenak, menerima kenyataan itu.”
Namun kemenangan tidak membuatnya terlena.
Balapan berikutnya adalah di Atlanta Motor Speedway — lintasan yang kini mirip superspeedway mini. Jika di Daytona ada momen tenang saat saving fuel, di Atlanta tak ada ruang lengah.
“Kalau Anda tertidur dua detik saja dengan mobil di kanan belakang, Anda bisa langsung terlempar ke posisi 30,” katanya tegas.
Di sana, peran spotter bahkan lebih krusial. Ia harus membaca arus serangan, memahami momentum, dan menentukan celah mana yang aman diambil.
Payne tahu satu kemenangan tidak menjamin apa-apa. Tetapi kemenangan ini mengubah arah angin. Ia menyebut Reddick sebagai “momentum racer” — pembalap yang tampil paling tajam saat kepercayaan diri sedang tinggi.
“Jangan biarkan kami panas,” ujarnya dua kali dalam percakapan yang sama.
Kini fokus mereka bukan hanya menang balapan, tetapi juga mengejar gelar juara. Payne memahami, finis ketiga dengan banyak stage points pun bisa menjadi hasil besar dalam perburuan kejuaraan.
Kemenangan walk-off tetap istimewa. Namun musim panjang menuntut konsistensi, bukan sekadar momen heroik.
Minggu ini mungkin terasa sempurna bagi Nick Payne. Tetapi di balik senyum dan air mata Daytona 500 2026, ia sudah kembali mengunci pikirannya.
Lebih sunyi. Lebih tajam. Lebih lapar.***
