Bahasa Militeristik: 5 Bahaya Tersembunyi yang Menggerus Dialog

Presiden Prabowo Subianto memberi hormat kepada prajurit TNI pada peringatan HUT ke-80 TNI di Monas sebagai representasi bahasa militeristik di ruang publik.
Presiden **Prabowo Subianto** memberi hormat kepada prajurit TNI saat menghadiri HUT ke-80 TNI di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2025). Momen ini merefleksikan simbol dan bahasa militeristik yang lekat dalam ruang publik. (iNewspalembang.id/ist)

Warta Kaili – Bahasa militeristik semakin akrab di telinga kita. Di kantor, pasar, grup percakapan, bahkan di ruang keluarga, orang menjawab instruksi dengan “siap!”, “siap, Ndan!”, atau “86!”. Terdengar ringan, kadang lucu, kadang dianggap tanda sigap dan profesional. Namun, di balik kebiasaan itu, tersimpan dampak yang tidak sederhana.

Bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan. Ia membentuk cara kita melihat relasi, otoritas, bahkan diri sendiri. Ketika istilah militer masuk ke ruang sipil dan dipakai tanpa sadar, kita sedang membawa logika komando ke dalam kehidupan sehari-hari.

1. Bahasa Militeristik Menguatkan Pola Hierarki

Dalam tradisi militer, kata “siap” menandakan kesiapan mutlak menjalankan perintah. Sapaan “Ndan” (komandan) menegaskan struktur komando yang tegas. Kode “86” dalam komunikasi kepolisian berarti perintah diterima dan siap dilaksanakan.

Semua istilah itu lahir dari sistem yang memang dirancang vertikal. Tidak ada ruang negosiasi panjang. Perintah jelas, pelaksanaan cepat.

Masalah muncul ketika pola ini dinormalisasi di ruang sipil. Di kantor, bawahan bisa merasa tidak nyaman menyampaikan pendapat berbeda karena budaya “siap” mengisyaratkan kepatuhan tanpa tanya. Lama-kelamaan, relasi profesional berubah menjadi relasi komando. Kreativitas dan kritik perlahan menyusut.

2. Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah Otoritarian

Indonesia memiliki sejarah panjang normalisasi bahasa dan simbol militer, terutama pada masa Orde Baru melalui doktrin Dwifungsi ABRI. Saat itu, militer tidak hanya hadir dalam pertahanan, tetapi juga dalam birokrasi, pendidikan, dan kehidupan sipil.

Bahasa kepatuhan menjadi bagian dari pembentukan budaya publik. Pendidikan diarahkan untuk membangun loyalitas dan disiplin yang kaku. Murid dibiasakan patuh, bukan berdialog.

Bacaan Lainnya

Warisan itu mungkin tidak lagi terasa secara eksplisit. Namun ketika bahasa komando kembali dianggap wajar dan bahkan keren, kita seolah menghidupkan kembali pola pikir lama: atasan memerintah, bawahan melaksanakan.

3. Menciptakan Komunikasi Satu Arah

Teori metafora konseptual menjelaskan bahwa metafora bukan hanya hiasan bahasa, melainkan kerangka berpikir. Ketika kita memakai istilah militer, kita sedang membingkai interaksi sebagai situasi komando.

Ungkapan “86, Ndan!” tidak mengandung ruang klarifikasi. Tidak ada kalimat “boleh saya bertanya?” atau “saya punya pandangan lain.” Yang ada hanyalah tanda penerimaan dan eksekusi.

Jika pola ini terus berulang, komunikasi berubah menjadi satu arah. Dialog sehat yang seharusnya memberi ruang setuju dan tidak setuju menjadi jarang terdengar.

4. Memicu Stres dan Agresivitas Terselubung

Dalam dunia kerja global, metafora perang juga sering dipakai: “kita harus menyerang pasar”, “habisi target”, “tempur habis-habisan”. Sekilas terdengar memotivasi. Namun riset psikologi bahasa menunjukkan bahwa kata-kata agresif dapat memicu respons stres di otak.

Bahasa memengaruhi emosi. Istilah yang bernuansa komando atau pertempuran bisa meningkatkan ketegangan, bahkan ketika konteksnya bukan konflik nyata. Alih-alih membangun kolaborasi, ia menumbuhkan atmosfer kompetisi yang keras.

Di dunia medis, penggunaan metafora perang pada pasien kanker—seperti “melawan musuh” atau “perang melawan sel jahat”—bahkan dapat menimbulkan beban psikologis. Pasien yang tidak sembuh bisa merasa “kalah perang”, seolah gagal secara pribadi.

5. Mengikis Empati Sosial

Perang adalah pengalaman nyata yang menyisakan trauma bagi banyak orang. Ketika istilah perang dipakai sembarangan untuk menggambarkan target bisnis atau tugas kantor, maknanya tereduksi.

Kita menjadi kurang peka terhadap penderitaan yang sesungguhnya. Kata “medan perang” kehilangan bobotnya. Empati menipis karena bahasa telah mengaburkan realitas.

Bahasa militeristik bukan sekadar gaya. Ia membawa nilai: disiplin, komando, loyalitas mutlak. Nilai-nilai itu penting dalam konteks tertentu. Namun ketika dibawa ke semua ruang, ia bisa menutup nilai lain yang tak kalah penting: dialog, kesetaraan, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Memilih Kata, Merawat Dialog

Mengurangi penggunaan bahasa militeristik bukan berarti melemahkan profesionalitas. Kita tetap bisa sigap tanpa harus berkata “siap, Ndan!”. Kita bisa menjawab “baik”, “saya mengerti”, atau bahkan “saya belum sepakat, boleh kita bahas lagi?”.

Pilihan kata yang lebih netral membuka ruang percakapan yang lebih manusiawi. Sapaan profesional seperti “Pak”, “Bu”, “Mas”, atau “Mbak” terasa lebih egaliter dibanding panggilan komando.

Setiap kata yang kita ucapkan membentuk budaya kecil di sekitar kita. Jika kita ingin lingkungan kerja dan ruang sosial yang sehat, mungkin sudah saatnya kita lebih sadar pada bahasa yang kita pilih.

Karena pada akhirnya, cara kita berbicara menentukan cara kita memperlakukan sesama.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *