Jermell Charlo Tantang Errol Spence dan Jaron Ennis

Jermell Charlo Tantang Errol Spence dan Jaron Ennis
Jermell Charlo Tantang Errol Spence dan Jaron Ennis (Foto: secondsout)

Warta Kaili – Jermell Charlo Tantang Errol Spence dan Jaron Ennis, sebuah pernyataan yang langsung memantik percakapan hangat di jagat tinju dunia. Setelah lama tak terlihat di atas ring, mantan juara tak terbantahkan kelas light-middleweight itu memberi sinyal jelas: ia belum selesai.

Nama Jermell Charlo memang sempat meredup setelah kekalahannya dari Canelo Alvarez pada September 2023. Sejak saat itu, Charlo belum kembali bertarung. Namun diamnya bukan berarti padam. Di usia 35 tahun, ia justru tampil penuh keyakinan dan menantang dua nama besar: Errol Spence Jr dan Jaron Ennis.

Tantangan itu bukan sekadar sensasi. Charlo menyampaikannya dengan nada tegas dalam sebuah wawancara podcast. Ia membantah klaim bahwa Spence pernah mendominasinya dalam sesi sparring. Baginya, cerita itu dilebih-lebihkan.

“Saya hancurkan semuanya. Apa yang kalian bicarakan? Saya adalah petarung yang ganas,” ujarnya lugas. Nada bicaranya bukan marah, melainkan percaya diri—seperti seseorang yang merasa harga dirinya disentuh.

Spence Bersiap, Ennis Menanjak

Di sisi lain, Errol Spence Jr juga tengah bersiap membuka babak baru. Mantan juara dunia kelas welter itu dijadwalkan kembali naik ring pada musim panas mendatang menghadapi petinju Australia, Tim Tszyu, dalam laga non-gelar. Pertarungan itu dinilai sebagai langkah pemanasan sebelum Spence kembali memburu sabuk juara.

Spence kini berusia 35 tahun, usia yang dalam tinju profesional kerap dianggap fase krusial. Ia masih punya nama besar, pengalaman, dan teknik kelas dunia. Namun waktu tidak pernah benar-benar berpihak pada siapa pun. Karena itu, tantangan dari Charlo bisa menjadi ujian mental sekaligus pembuktian.

Sementara itu, Jaron “Boots” Ennis berada di jalur berbeda. Petinju muda tak terkalahkan itu disebut-sebut akan berhadapan dengan sesama rising star, Vergil Ortiz Jr, dalam duel potensial pada 2026. Jika laga itu terwujud dan Ennis menang, ia berpeluang besar menjadi juara dunia dua divisi.

Bacaan Lainnya

Charlo memahami momentum tersebut. Ia tak ingin ketinggalan kereta. Dalam wawancara yang sama, ia bahkan secara terbuka menyebut nama promotor Ennis, Eddie Hearn, dan meminta agar laga melawan Ennis diwujudkan.

“Saya sudah menulis kepada Eddie Hearn. Tolong jawab DM saya. Saya ingin Anda mengatur sesuatu antara saya dan petinju terbaik Anda, Boots,” katanya.

Pernyataan itu terasa personal, sekaligus profesional. Charlo tidak menunggu tawaran datang; ia mengetuk pintu sendiri.

Duel Ego, Warisan, dan Waktu

Bila ditarik lebih dalam, tantangan Charlo bukan sekadar soal pertarungan. Ini tentang warisan. Tentang bagaimana seorang mantan juara ingin memastikan namanya tetap relevan di tengah generasi baru yang agresif dan lapar gelar.

Spence punya reputasi sebagai petinju teknis dengan pukulan keras dan kecerdikan membaca ritme. Ennis dikenal eksplosif, cepat, dan penuh improvisasi. Charlo sendiri memiliki kombinasi kekuatan, pengalaman, serta mental bertarung yang telah teruji di laga-laga besar.

Pertanyaannya, apakah tubuh dan refleksnya masih setajam dulu?

Itulah yang membuat potensi duel ini begitu menarik. Bukan hanya adu pukulan, melainkan adu fase kehidupan. Spence ingin bangkit. Ennis ingin menegaskan dominasi. Charlo ingin membuktikan dirinya belum habis.

Dalam tinju, satu laga bisa mengubah segalanya. Kemenangan bisa menghidupkan kembali karier. Kekalahan bisa mempercepat akhir.

Menebus Waktu yang Hilang

Sejak kekalahan dari Canelo, Charlo memang jarang terdengar. Beberapa pihak sempat meragukan komitmennya. Namun dari pernyataannya kini, terlihat ada bara yang belum padam.

Ia berbicara bukan dengan nada defensif, melainkan dengan keyakinan seorang mantan juara yang merasa masih mampu bersaing. Ada semacam urgensi—kesadaran bahwa waktu tidak menunggu.

Jika pertarungan melawan Spence atau Ennis benar-benar terjadi, dunia tinju akan mendapat suguhan duel generasi dan gaya bertarung yang kontras. Penggemar tentu berharap lebih dari sekadar perang kata-kata.

Untuk saat ini, semuanya masih sebatas wacana. Namun dalam dunia tinju profesional, satu pernyataan berani bisa menjadi awal negosiasi serius.

Dan Charlo sudah melangkah lebih dulu.

Ia menantang. Ia memanggil. Ia membuka peluang.

Kini, bola ada di tangan Spence dan Ennis.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *