Warta Kaili – Uap tipis yang mengepul dari aliran air terjun langsung terasa begitu kaki menyentuh permukaannya. Di tengah udara pegunungan yang sejuk, air yang mengalir justru hangat, memberi sensasi relaksasi yang tak biasa.
Pemandangan hutan hijau yang mengelilingi lokasi membuat pengalaman berendam terasa semakin sempurna—tenang, alami, dan menyegarkan. Sensasi inilah yang dirasakan banyak pengunjung, saat pertama kali menikmati Pemandian Air Terjun Maima.
Terletak di Desa Lawua, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, Pemandian Air Terjun Maima merupakan destinasi wisata alam yang memiliki keunikan tersendiri.
Berbeda dari air terjun pada umumnya, Maima mengalirkan air panas alami yang bersumber dari aktivitas panas bumi (geotermal). Fenomena alam ini menjadikan Maima bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang relaksasi alami bagi tubuh dan pikiran.
Keunikan Air Terjun Panas di Tengah Alam Liar
Aliran air hangat yang keluar dari celah bebatuan berpadu dengan derasnya air terjun, menciptakan pengalaman berendam yang jarang ditemui. Sensasi hangat tersebut terasa kontras dengan udara sekitar yang sejuk, khas wilayah pegunungan Kulawi Selatan.
Keunikan ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun pengunjung dari daerah sekitar yang ingin merasakan wisata alam berbeda.
Panorama Indah dan Keramahan Warga Desa
Keindahan Air Terjun Maima semakin lengkap dengan panorama alam yang masih asri. Hutan hijau, suara gemericik air, serta suasana pedesaan yang tenang menciptakan pengalaman wisata yang menenangkan.
Masyarakat Desa Lawua dikenal ramah dan terbuka terhadap pengunjung, menjadikan Maima bukan sekadar destinasi alam, tetapi juga ruang interaksi sosial yang hangat dan bersahabat.
Akses Menantang, Pengalaman Tak Terlupakan
Desa Lawua berjarak sekitar 95 kilometer dari Kota Palu dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kondisi jalan menuju desa relatif baik. Namun, perjalanan menuju lokasi pemandian justru menjadi bagian dari petualangan.
Dari desa, pengunjung harus melanjutkan perjalanan sejauh 2,5 kilometer dengan berjalan kaki, melewati jembatan gantung dan jalan setapak di tengah alam.
Rute ini cukup menantang dan memacu adrenalin, namun sepadan dengan pengalaman alam yang menanti di ujung perjalanan.
Kolaborasi Desa dan Taman Nasional
Pemandian Air Terjun Maima dikembangkan melalui kolaborasi antara Pemerintah Desa Lawua dan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).
Pengembangan ini dimotori oleh Marselinus Y. Ado, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTNW) II Gimpu. Sejak tahun 2018, telah dibentuk kelompok pemberdayaan masyarakat “Sadar Wisata Maima Desa Lawua” sebagai upaya memperkuat pengelolaan wisata berbasis masyarakat.
Berbagai kegiatan pemberdayaan telah dilakukan, mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas kelompok hingga pembangunan sarana dan prasarana ekowisata, dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi kawasan penyangga Taman Nasional Lore Lindu.
Bangkit dan Bertahan dari Tantangan
Pengelolaan wisata Maima sempat terhenti akibat bencana gempa tahun 2018 yang merusak sejumlah fasilitas. Setahun kemudian, Pemerintah Desa Lawua berinisiatif membentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) sebagai pengelola wisata alam desa.
Sejak saat itu, upaya membangun kembali Maima terus dilakukan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti koordinasi antar pengurus, sinergi dengan pemangku kepentingan, serta keterbatasan anggaran.
Pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan menuntut keterlibatan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan pengaruh. Pendekatan kolaboratif inilah yang menjadi fondasi pengembangan Wisata Alam Maima hingga saat ini.
Destinasi Relaksasi Alami di Kulawi Selatan
Pemandian Air Terjun Maima menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Sensasi air hangat alami, perjalanan penuh petualangan, serta suasana alam yang masih terjaga menjadikannya destinasi ideal bagi wisatawan pencinta alam dan ketenangan.
Di kawasan penyangga Taman Nasional Lore Lindu, Maima hadir sebagai contoh ekowisata berbasis masyarakat yang patut dikunjungi dan dijaga bersama.






