Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen, Rupiah Justru Jeblok ke Rp16.842

Ilustrasi Rupiah Melemah (Foto: jatim.antaranews.com)

Warta Kaili – Nilai tukar rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026). Di layar-layar transaksi valuta asing, rupiah ditutup di level Rp16.842 per dolar AS, melemah 65 poin atau sekitar 0,39 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang hari, tekanan sempat membawa rupiah turun hingga 70 poin.

Pelemahan ini terasa kontras dengan kabar baik dari dalam negeri. Ekonomi Indonesia justru mencatatkan kinerja yang relatif solid sepanjang 2025.

Di tengah angka pertumbuhan yang melampaui ekspektasi, nilai tukar rupiah seolah berjalan sendiri—terseret arus global yang lebih besar dari kekuatan domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen secara tahunan (year-on-year) sepanjang 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar 5,03 persen dan melampaui proyeksi sebagian besar ekonom.

Secara nominal, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat Rp23.821,1 triliun atas dasar harga berlaku, sementara PDB harga konstan mencapai Rp13.580,5 triliun. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi tahunan bahkan menyentuh 5,51 persen.

Dari sisi produksi, denyut pertumbuhan terutama datang dari sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta informasi dan komunikasi. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, disusul pembentukan modal tetap bruto (PMTB).

Secara geografis, Pulau Jawa dan Sulawesi mencatatkan laju pertumbuhan di atas rata-rata nasional—sebuah sinyal bahwa roda ekonomi di daerah masih berputar cukup kencang.

Bacaan Lainnya

“Sebelumnya konsensus ekonom dan analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 paling tinggi hanya 5,1 persen,” ujar Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.

Realisasi di atas ekspektasi ini semestinya menjadi bantalan bagi rupiah. Namun pasar valuta asing bekerja dengan logika yang tidak selalu sejalan dengan data domestik.

Tekanan utama datang dari luar negeri. Sentimen global kembali mendominasi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ibrahim menilai pelaku pasar tengah mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai semakin ketat di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh. Harapan pemangkasan suku bunga acuan AS pun mulai menyusut setelah The Fed menahan suku bunga pada pertemuan Januari lalu.

“Pasar keuangan saat ini memperkirakan hampir 46 persen kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni, menurut alat CME FedWatch,” kata Ibrahim. Ketidakpastian ini membuat investor global cenderung kembali memarkir dana di aset dolar AS yang dianggap lebih aman.

Fenomena ini juga menjadi sorotan media internasional. Dilansir dari the Guardian, penguatan dolar AS dalam beberapa bulan terakhir telah menekan mata uang negara berkembang, bahkan di negara dengan fundamental ekonomi yang relatif sehat.

Dirangkum dan ditulis kembali dengan gaya warta Kaili, kondisi ini ibarat perahu nelayan di Teluk Palu: meski mesin masih kuat dan arah jelas, gelombang besar dari laut lepas tetap bisa menggoyahkan laju.

Menjelang akhir pekan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum sepenuhnya mereda. Untuk perdagangan Jumat (6/2/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.840 hingga Rp16.900 per dolar AS.

Dalam rentang 52 minggu terakhir, rupiah bergerak di kisaran Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS. Sejak awal tahun (year-to-date), rupiah tercatat melemah sekitar 0,97 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan gejala sesaat, melainkan bagian dari dinamika global yang lebih luas.

Di tengah data pertumbuhan yang menggembirakan, pelemahan rupiah menjadi pengingat bahwa ekonomi tidak hanya soal angka PDB. Ia juga tentang kepercayaan pasar, arus modal, dan sentimen global yang kerap berubah cepat.

Bagi masyarakat, cerita ini bukan sekadar grafik kurs, melainkan soal harga kebutuhan, ongkos usaha, dan harapan agar stabilitas segera kembali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *