Harga Cabai Kota Palu Naik, Tekanan Harga Terasa di Pasar Tradisional

Harga cabai rawit naik 2026 di pasar tradisional dengan tumpukan cabai merah dan hijau, sementara harga pangan di Palu relatif stabil selama Ramadan.
Harga cabai naik (foto: Ikhsan Madjido)

Warta Kaili – Harga cabai Kota Palu naik tajam dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan warga dan pedagang. Lonjakan ini tidak berdiri sendiri—bawang merah ikut merangkak naik, memperlihatkan tekanan yang kembali menghampiri sektor pangan di Sulawesi Tengah.

Data terbaru per Sabtu, 4 April 2026, menunjukkan pergerakan harga yang cukup mencolok. Komoditas hortikultura, terutama cabai rawit merah dan bawang merah, menjadi penyumbang utama kenaikan.

Di pasar-pasar tradisional Palu, suasana terasa berbeda. Percakapan antara pembeli dan penjual kini lebih sering diwarnai tawar-menawar yang alot. Sebagian warga mulai membeli dalam jumlah lebih sedikit, sekadar untuk kebutuhan harian.

Fenomena harga cabai Kota Palu naik ini menjadi sinyal bahwa tekanan pasca-Lebaran masih terasa, bahkan cenderung berlanjut.

Lonjakan Tajam pada Cabai dan Bawang

Kenaikan paling signifikan terjadi pada bawang merah ukuran sedang yang kini mencapai Rp54.900 per kilogram. Angka ini naik 17,68 persen atau bertambah Rp8.250 dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, harga cabai Kota Palu naik drastis pada komoditas cabai rawit merah. Dalam tiga hari terakhir, harga sempat menyentuh Rp95.000 per kilogram sebelum turun ke Rp85.000. Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan harga berkisar antara Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas paling mahal saat ini.

Bacaan Lainnya

Tak hanya itu, bawang putih ukuran sedang juga mengalami kenaikan sebesar 5,88 persen menjadi Rp45.000 per kilogram.

Meski begitu, tidak semua jenis cabai mengalami tren serupa. Cabai merah keriting justru turun 15,99 persen ke Rp36.250 per kilogram. Cabai merah besar juga melemah 8,81 persen menjadi Rp38.800 per kilogram. Bahkan cabai rawit hijau turun Rp2.500 menjadi Rp90.000 per kilogram.

Namun tetap saja, perhatian utama publik tertuju pada fakta bahwa harga cabai Kota Palu naik cukup tajam dalam waktu singkat.

Pasokan Terganggu Pasca-Lebaran

Kenaikan ini tidak terjadi tanpa sebab. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu, Sutikno, menjelaskan bahwa faktor utama berasal dari terganggunya pasokan.

Menurutnya, distribusi dari daerah penyangga mengalami penurunan setelah Lebaran. Pasokan cabai rawit merah menjadi yang paling terdampak.

“Supply dari kabupaten penyangga agak kurang sejak Lebaran. Cabai rawit merah terutama yang kurang. Untuk bawang merah, supply dari Enrekang juga berkurang,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah oleh faktor cuaca. Beberapa hari terakhir, suhu di Palu cukup panas, yang turut memengaruhi produksi dan distribusi.

Situasi ini memperkuat tren bahwa ketika pasokan terganggu, maka harga cabai Kota Palu naik hampir tidak terelakkan.

Dapur Rumah Tangga Ikut Tertekan

Kenaikan harga ini langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil seperti penjual makanan.

Bagi warga, cabai dan bawang bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan pokok dalam memasak sehari-hari. Ketika harga cabai Kota Palu naik, pengeluaran dapur otomatis meningkat.

Seorang warga di Pasar Inpres Manonda mengaku kini harus mengurangi pembelian cabai. Jika sebelumnya membeli setengah kilogram, kini cukup seperempat kilogram saja.

Di sisi lain, pelaku usaha kuliner menghadapi dilema. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengurangi kualitas dan porsi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan memiliki efek berantai yang cukup luas, dari dapur rumah tangga hingga roda usaha kecil.

Beras Stabil, Protein Hewani Naik Tipis

Menariknya, tidak semua komoditas mengalami lonjakan. Harga beras di Sulawesi Tengah relatif stabil.

Beras kualitas medium I tetap di angka Rp15.000 per kilogram, sedangkan medium II berada di Rp15.500. Untuk kualitas premium, harga bertahan di Rp16.250 per kilogram.

Sementara itu, komoditas protein hewani menunjukkan kenaikan tipis. Daging ayam ras segar naik menjadi Rp39.900 per kilogram, dan telur ayam ras mencapai Rp36.950 per kilogram.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa lonjakan lebih terfokus pada komoditas hortikultura. Meski demikian, perhatian tetap tertuju karena harga cabai Kota Palu naik memiliki dampak psikologis yang kuat di masyarakat.

Program dan Ajakan Menanam

Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan dampak kenaikan harga.

Salah satunya melalui program JAMILA (Belanja Minggu Kendalikan Inflasi) yang rutin digelar setiap dua minggu di Lapangan Vatulemo. Selain itu, Gerakan Pasar Murah (GPM) dan Pasar Tani juga terus digencarkan.

Di sisi lain, masyarakat juga diajak untuk menanam cabai di pekarangan rumah. Langkah ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.

Namun demikian, efektivitas langkah ini tentu membutuhkan waktu.

Menunggu Stabilitas di Tengah Ketidakpastian

Kenaikan harga pangan selalu menjadi isu sensitif, karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika harga cabai Kota Palu naik, yang terasa bukan sekadar angka, melainkan beban nyata di kehidupan sehari-hari.

Saat ini, belum ada kepastian apakah harga akan kembali turun atau justru terus naik dalam waktu dekat. Faktor pasokan dan cuaca masih menjadi variabel yang sulit diprediksi.

Di tengah kondisi ini, masyarakat hanya bisa beradaptasi—mengatur ulang pengeluaran, mencari alternatif, dan berharap stabilitas segera kembali.

Sementara itu, pasar tetap bergerak, dan di setiap transaksi kecil, ada cerita tentang daya tahan warga menghadapi perubahan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *